NUSA AKSARA - Kementerian Transmigrasi menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat di kawasan transmigrasi dan eks lokasi transmigrasi yang terdampak bencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh. Total sebanyak 17 paket bantuan disalurkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar warga di wilayah terdampak.
Setiap paket bantuan berisi tenda darurat, peralatan dapur umum, perlengkapan memasak, hingga alat kebersihan. Bantuan ini ditujukan untuk menunjang operasional dapur umum agar kebutuhan pangan warga terdampak tetap terpenuhi secara berkelanjutan.
Sebanyak 13 paket bantuan disalurkan melalui Dinas Penanaman Modal, Transmigrasi, dan Tenaga Kerja Kabupaten Aceh Utara. Sementara empat paket lainnya disalurkan melalui Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Bener Meriah.
Penyaluran dilakukan di titik-titik permukiman terdampak yang hingga kini masih dalam tahap pemulihan pascabencana.
Direktur Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (PPKTrans), M. Sigit Mustofa Nurudin, mengatakan bahwa Kementerian Transmigrasi terus melakukan pemantauan dan pembaruan data di wilayah terdampak bencana.
“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada saudara-saudara di kawasan transmigrasi yang terdampak bencana di Aceh. Kami berharap masyarakat tetap semangat dan dapat segera kembali beraktivitas seperti semula. Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk terus memberikan dukungan sesuai kemampuan yang ada,” ujar Sigit dalam keterangannya, Minggu (25/1).
Hingga saat ini, sejumlah wilayah di Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Utara dan Bener Meriah, masih menghadapi dampak signifikan akibat banjir dan longsor. Kerusakan permukiman serta keterbatasan sarana kebutuhan dasar membuat sebagian warga belum dapat beraktivitas secara normal.
Di Kabupaten Aceh Utara, khususnya kawasan Cot Girek dan sekitarnya, banyak keluarga masih membutuhkan tempat berteduh sementara serta fasilitas memasak untuk memenuhi kebutuhan pangan harian. Aktivitas ekonomi warga terhenti, sementara sebagian permukiman belum sepenuhnya aman untuk dihuni.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bener Meriah, terutama di kawasan Pintu Rime Gayo dan Samar Kilang. Warga di wilayah ini masih sangat bergantung pada bantuan logistik dan layanan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Aceh per 23 Januari 2026, tercatat sekitar 5.700 kepala keluarga atau 9.453 jiwa terdampak bencana di kawasan transmigrasi dan eks lokasi transmigrasi.
Dampak bencana tercatat terjadi di sembilan kabupaten, mencakup enam kawasan transmigrasi dengan total 94 eks lokasi transmigrasi, terutama di wilayah dataran rendah dan rawan genangan.
“Kementerian Transmigrasi terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta memperbarui data pascabencana banjir dan longsor di Aceh, termasuk di kawasan transmigrasi dan eks lokasi transmigrasi,” tambah Sigit.
Sebelumnya, pada Desember 2025, Kementerian Transmigrasi juga telah menyalurkan bantuan tahap kedua berupa sembako, obat-obatan, dan perlengkapan dapur umum melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bagian dari penanganan darurat.
Ke depan, Kementerian Transmigrasi menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat transmigrasi terdampak bencana serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah guna mempercepat pemulihan kawasan transmigrasi secara bertahap dan berkelanjutan. (CHY/CTA)