Subaru Setop Jual Mobil Bensin di Eropa, Beralih ke EV Mulai 2027

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:30:31 WIB
Subaru memastikan penghentian penjualan mobil bensin di Eropa paling lambat akhir 2027.

NUSAAKSARA.COM — Subaru memastikan menghentikan penjualan mobil bermesin bensin di Eropa paling lambat akhir 2027 dan beralih ke lini kendaraan listrik sepenuhnya. Model Outback menjadi yang pertama discontinue akhir tahun ini, disusul Impreza, Crosstrek, dan Forester pada 2027. Keputusan produsen asal Jepang itu muncul akibat aturan emisi dan sistem bantuan pengemudi Uni Eropa yang makin ketat.

Subaru mengonfirmasi rencana menghentikan penjualan mobil berbahan bakar bensin di pasar Eropa paling lambat 2027. Pengumuman itu disampaikan kepada media otomotif Jerman, Auto Motor und sport, dan menandai pergeseran besar bagi merek yang dikenal lewat mesin boxer serta performa off-road tersebut.

Posisi Subaru di Eropa sebenarnya tidak besar. Sepanjang tahun lalu, penjualan merek ini hanya sekitar 23.000 unit dengan pangsa pasar 0,2 persen. Meski begitu, model seperti Outback dan WRX punya penggemar fanatik di kalangan pecinta off-road dan tuning, sehingga hilangnya versi mesin pembakaran internal (ICE) tetap terasa secara simbolis.

Model Bensin yang Dihentikan Bertahap

Outback menjadi model bensin pertama yang discontinue di Eropa pada akhir tahun ini. Setelah itu, gelombang berikutnya menyusul pada 2027: Impreza, Crosstrek, dan Forester. Artinya, ketiga model tersebut masih dijual dalam hitungan bulan sebelum benar-benar ditarik dari diler Eropa.

Mulai 2028, Subaru hanya akan menawarkan tiga model di Uni Eropa dan semuanya kendaraan listrik: Solterra, E-Outback (dipasarkan sebagai Trailseeker di Amerika Serikat), serta Uncharted. Ketiganya dikembangkan bersama Toyota dan berbasis platform bZ4X, bZ4X Touring, dan C-HR+.

Alasan di Balik Keputusan

Subaru menyebut regulasi Eropa sebagai pemicu utama. Uni Eropa mewajibkan mobil yang diproduksi antara 2025 hingga 2034 memiliki rata-rata emisi CO2 93,6 gram per kilometer, turun 15 persen dibanding level 2021.

Aturan lain yang menambah beban adalah kewajiban sistem Advanced Driver Distraction Warning (ADDW) dan pengereman darurat yang ditingkatkan untuk semua mobil penumpang dan van, berlaku mulai 7 Juli 2026. Kombinasi keduanya membuat model bensin Subaru sulit tetap kompetitif di kawasan tersebut.

Subaru Kembangkan Teknologi EV Sendiri

Meski tiga model listrik awalnya lahir dari kolaborasi dengan Toyota, Subaru menyatakan bakal mengembangkan teknologi EV secara mandiri untuk generasi berikutnya. Platform baru mereka mencakup baterai anyar, teknologi motor listrik, dan unit kontrol terintegrasi untuk pembaruan over-the-air.

"By developing vehicles in-house and having EV technologies on our own, we can quickly deliver to our customers the peace of mind and driving pleasure that define Subaru, even in this era of change," ujar Takatomo Watamori, VP of engineering Subaru.

Langkah ini menunjukkan Subaru tidak ingin sepenuhnya bergantung pada Toyota dalam jangka panjang. Pengembangan in-house disebut sebagai upaya menjaga karakter berkendara khas Subaru di era elektrifikasi.

Dampak ke Pasar Indonesia

Keputusan ini spesifik untuk pasar Eropa dan belum tentu berlaku di Indonesia. Subaru masih menjual model bensin seperti Forester dan Crosstrek di Tanah Air, dan belum ada pengumuman resmi soal perubahan lini produk lokal. Namun, arah global merek ini jelas: elektrifikasi menjadi prioritas.

Bagi konsumen Indonesia yang mempertimbangkan Subaru, transisi di Eropa bisa menjadi sinyal soal ketersediaan suku cadang dan dukungan jangka panjang untuk model bensin tertentu. Pantau terus pengumuman resmi dari Subaru Indonesia sebelum mengambil keputusan pembelian.

Terkini