Program Magang Nasional Jadi Senjata Pemerintah Tekan Pengangguran

Program Magang Nasional Jadi Senjata Pemerintah Tekan Pengangguran
Program Magang Nasional. Foto: Ilustrasi

NUSA AKSARA – Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah untuk menekan angka pengangguran sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Salah satu strategi yang kini menjadi perhatian adalah Program Magang Nasional (PMN) atau Magang Hub yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Ketenagakerjaan.

Program ini dirancang sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri dengan memberikan pengalaman kerja nyata bagi lulusan baru agar lebih siap memasuki pasar kerja.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan Program Magang Nasional menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran yang hingga Februari 2026 masih mencapai sekitar 7,24 juta orang.

“Memang belum cukup mengatasi jumlah angka pengangguran yang hampir 7,24 juta orang. Tapi ini kita harapkan minimal bisa meminimalisir angka tersebut,” ujar Afriansyah dalam Dialog FMB9 bertajuk Program Magang Nasional: Solusi Taktis-Strategis Problem Ketenagakerjaan.

Kuota Diperluas Jadi 150 Ribu Peserta

Sebagai bentuk komitmen pemerintah, kuota Program Magang Nasional terus ditingkatkan.

Pada angkatan pertama, pemerintah menyediakan 100 ribu peserta, sedangkan pada angkatan kedua tahun 2026 jumlahnya bertambah menjadi 150 ribu peserta.

Afriansyah menegaskan, perluasan tersebut juga diiringi pemerataan akses sehingga kesempatan mengikuti program tidak hanya berpusat di Pulau Jawa, tetapi terbuka bagi peserta dari seluruh Indonesia.

Langkah ini diharapkan memberi peluang lebih besar bagi lulusan di berbagai daerah untuk memperoleh pengalaman kerja sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri.

Bekal Pengalaman dan Sertifikasi

Menurut Afriansyah, Presiden Prabowo berharap lulusan yang mengikuti Program Magang Nasional tidak hanya memperoleh pengalaman bekerja, tetapi juga memahami budaya kerja perusahaan sebelum benar-benar memasuki dunia kerja.

“Bapak Presiden berharap dengan Magang Nasional ini anak-anak yang baru lulus punya pengalaman, punya kompetensi, dan memiliki memori bekerja. Ketika masuk ke dunia kerja, mereka sudah siap karena pernah merasakan langsung bagaimana budaya kerja di perusahaan,” katanya.

Selain pengalaman kerja, peserta juga memperoleh berbagai fasilitas, di antaranya:

  • Uang saku setara UMP atau UMK
  • Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
  • Sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)

Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan memiliki daya saing yang lebih tinggi saat memasuki dunia kerja.

Penyerapan Kerja Capai 30 Persen

Evaluasi terhadap pelaksanaan angkatan pertama menunjukkan hasil yang cukup positif.

Sekitar 30 persen peserta berhasil direkrut oleh perusahaan tempat mereka menjalani magang.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa skema magang mampu mempercepat proses transisi lulusan dari bangku pendidikan menuju dunia kerja.

Afriansyah juga menjelaskan bahwa paradigma magang kini telah berubah. Peserta tidak lagi hanya mengerjakan tugas administratif, tetapi dilibatkan langsung dalam pekerjaan sesuai kompetensi masing-masing.

“Kalau mereka menunjukkan kemampuan, perusahaan langsung bisa merekrut,” ujarnya.

Peluang Karier hingga Luar Negeri

Selain memperkuat penyerapan tenaga kerja di dalam negeri, pemerintah juga membuka peluang magang dan penempatan kerja ke luar negeri.

Menurut Afriansyah, sejumlah negara seperti Jepang membutuhkan tambahan tenaga kerja akibat penurunan jumlah penduduk usia produktif.

Karena itu, pemerintah mendorong penguasaan bahasa asing seperti Bahasa Jepang, Korea, dan Mandarin agar lulusan Indonesia memiliki daya saing di pasar kerja internasional.

Dunia Usaha Sambut Positif

Program Magang Nasional juga mendapat dukungan dari kalangan dunia usaha.

Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Darwoto, menilai program tersebut membantu perusahaan memperoleh tenaga kerja yang lebih siap bekerja.

Menurutnya, masa magang memberi kesempatan bagi perusahaan untuk menilai kemampuan peserta sebelum memutuskan merekrut mereka sebagai karyawan.

“Kami menyambut positif program magang ini. Dari sisi memberikan pengalaman bekerja bagi fresh graduate, ini sangat penting sekali. Perusahaan juga merasakan manfaatnya karena proses mencari tenaga kerja menjadi lebih mudah,” ujar Darwoto.

Ia menambahkan, keberhasilan sekitar 30 persen peserta angkatan pertama direkrut perusahaan menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi, memiliki kompetensi, dan menunjukkan etos kerja yang baik selama menjalani program magang.

Darwoto berharap Program Magang Nasional dapat menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha dalam menciptakan sistem link and match yang lebih efektif sehingga lulusan semakin siap menghadapi kebutuhan industri.

(CHY)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index