KIJA Kuasai 51 Persen Saham KIS Kendal, Tambah Bank Tanah 500 Hektare

Senin, 05 Oktober 2026 | 12:00:32 WIB
PT KIJA menguasai 51 persen saham PT Kawasan Industri Seafer melalui anak usahanya, PT Indocargomas Persada.

NUSAAKSARA.COM — PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) resmi mengendalikan PT Kawasan Industri Seafer (KIS) di Kendal, Jawa Tengah, setelah mengambil alih 51 persen saham senilai Rp 340,86 miliar. Aksi korporasi ini menambah bank tanah perseroan sekitar 500,24 hektare dan disebut berpotensi menjadi katalis positif jangka menengah hingga panjang.

Pengambilalihan saham KIS dilakukan KIJA lewat anak usahanya, PT Indocargomas Persada (IP), yang membeli 340.863.090 lembar saham KIS. Sisa 49 persen atau 327.495.910 saham masih dipegang PT Seafer Lumina Capital.

Dengan transaksi itu, IP berstatus sebagai pemegang saham pengendali KIS. Corporate Secretary KIJA, Budianto Liman, menyampaikan hal tersebut melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Dengan dilaksanakannya transaksi tersebut, IP menjadi pemegang saham pengendali KIS dengan kepemilikan sebesar 51,00%," ujar Budi.

Alasan KIJA Masuk ke Kendal

Langkah ini merupakan bagian dari strategi KIJA memperluas bisnis kawasan industri, terutama di Jawa Tengah. Lewat KIS, perseroan bisa mengoptimalkan potensi pengembangan lahan yang dimilikinya.

"Transaksi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kawasan industri di Kendal serta memberikan peluang bagi KIJA untuk meningkatkan skala dan potensi usaha kawasan industri," kata Budi.

KIS sendiri bergerak di bidang pengembangan kawasan industri dengan bank tanah sekitar 5.002.363 meter persegi, setara 500,24 hektare, di Kabupaten Kendal.

Rekomendasi Add dengan Target Rp 212

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai akuisisi ini memperkuat posisi KIJA di sektor kawasan industri. Ia merekomendasikan saham KIJA untuk ditambah (add) dengan target harga Rp 212 per saham.

Pasar merespons positif. Pada perdagangan Senin (5/10), saham KIJA sempat melonjak 7,95 persen ke level Rp 163 per saham secara intraday pukul 09.38 WIB. Meski begitu, sepanjang tahun berjalan saham KIJA masih turun 23,81 persen.

Menurut Nafan, luas lahan KIS dan rekam jejaknya sebagai bagian dari proyek strategis nasional (PSN) pada 2019 memberi nilai strategis bagi KIJA. Aset itu berpotensi dikembangkan untuk menangkap peluang relokasi dan ekspansi industri, khususnya manufaktur, logistik, serta industri berorientasi ekspor.

KIS sebelumnya masuk PSN lewat Perpres Nomor 79 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah, dan tercatat dalam agenda RPJMN 2025-2029 sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Kontribusi Jangka Pendek Belum Signifikan

Nafan memperkirakan kontribusi KIS terhadap pendapatan dan laba KIJA belum signifikan dalam waktu dekat. Pengembangan kawasan industri butuh belanja modal, pembangunan infrastruktur, dan waktu untuk mencapai tingkat okupansi yang optimal.

"Ke depan, prospek fundamental KIJA menurut saya cenderung semakin positif apabila manajemen mampu mengakselerasi monetisasi land bank KIS melalui penjualan lahan dan menarik tenant baru," kata Nafan kepada Katadata.

Sinergi KIS dengan kawasan industri KIJA di Cikarang dinilai dapat memperkuat diversifikasi sumber pendapatan sekaligus memperpanjang visibilitas pertumbuhan perseroan.

Dari sisi saham, aksi korporasi ini berpotensi menjadi katalis positif karena pasar cenderung mengapresiasi penambahan aset produktif dan pipeline pengembangan baru. Investor tetap perlu mencermati valuasi akuisisi, struktur pendanaan, kebutuhan belanja modal, serta kecepatan monetisasi lahan.

"KIJA memiliki prospek fundamental yang semakin menarik untuk horizon menengah-panjang, dengan potensi rerating apabila akuisisi KIS mulai menghasilkan pertumbuhan marketing sales, pendapatan dan EBITDA yang terukur," ujar Nafan.

Terkini