Kredit BNI Melonjak 22,2 Persen, Laba Tumbuh 6,6 Persen

Kredit BNI Melonjak 22,2 Persen, Laba Tumbuh 6,6 Persen
Kredit BNI tumbuh 22,2 persen secara tahunan hingga kuartal III-2026.

NUSAAKSARA.COM — PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat pertumbuhan kredit 22,2 persen secara tahunan hingga kuartal III-2026, tetapi laba bersih hanya tumbuh 6,6 persen ke Rp 16,1 triliun. Tekanan biaya dana dan penyempitan margin bunga membuat Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk saham BBNI.

Ekspansi kredit BNI melaju jauh lebih cepat ketimbang laju pertumbuhan labanya. Hingga September 2026, kredit bank pelat merah itu menembus Rp 992,5 triliun, naik 22,2 persen dibanding periode sama tahun lalu. Angka itu juga tumbuh 2,5 persen secara kuartalan dan 10,3 persen dibanding akhir 2025.

Dana pihak ketiga (DPK) ikut menopang, tumbuh 20,4 persen secara tahunan. Dana murah atau CASA naik 19,6 persen dengan rasio 65,2 persen, sehingga likuiditas BNI tetap cukup untuk membiayai penyaluran kredit.

Laba Kuartal III Ditopang Pencadangan yang Turun

Laba bersih BNI pada kuartal III-2026 mencapai Rp 5,4 triliun. Angka itu naik 5,2 persen secara kuartalan dan 6,8 persen dibanding kuartal III tahun lalu.

Pendorong utamanya adalah penurunan biaya pencadangan kerugian kredit sebesar 36,8 persen secara kuartalan menjadi Rp 1,9 triliun. Biaya kredit (cost of credit) turun ke 0,7 persen dari 1,2 persen pada kuartal II-2026.

Secara kumulatif Januari–September 2026, laba bersih BNI mencapai Rp 16,1 triliun atau tumbuh 6,6 persen secara tahunan.

Margin Bunga Menyempit, Biaya Dana Melonjak

Kinerja operasional inti justru menunjukkan tekanan. Pendapatan bunga bersih (NII) turun 2,7 persen secara kuartalan menjadi Rp 11 triliun, seiring beban bunga yang melonjak 24,5 persen.

Biaya operasional naik 7,4 persen, membuat laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) turun 1,5 persen menjadi Rp 9 triliun pada kuartal III. Padahal secara kumulatif, PPOP sembilan bulan pertama 2026 mencetak rekor Rp 27,5 triliun atau naik 11,6 persen.

Margin bunga bersih (NIM) BNI menyusut ke 3,3 persen pada kuartal III-2026, turun 30 basis poin dari kuartal sebelumnya. Sepanjang sembilan bulan pertama, NIM berada di 3,5 persen, lebih rendah dari 3,8 persen pada periode sama tahun lalu.

Biaya dana (cost of funds) melonjak ke 3,16 persen dari 2,63 persen pada kuartal II-2026. Biaya deposito berjangka bahkan mencapai 5,39 persen. Manajemen BNI menyebut persaingan penghimpunan dana menguat setelah perseroan kembali masuk ke persaingan deposito pada Juni–Juli 2026, saat likuiditas masih ketat.

Imbal Hasil Kredit Ikut Turun

Tekanan NIM bukan hanya datang dari sisi pendanaan. Imbal hasil kredit Januari–September 2026 tercatat 6,9 persen, turun dari 7,3 persen pada periode sama tahun sebelumnya.

Penurunan itu antara lain mencerminkan pergeseran komposisi kredit ke pembiayaan korporasi (wholesale loans) yang imbal hasilnya lebih rendah. BNI sudah melakukan penyesuaian suku bunga kredit hingga 79 basis poin, melampaui target manajemen, sehingga imbal hasil kredit kuartal berjalan naik ke 7,1 persen dari 6,9 persen.

Meski begitu, kenaikan tersebut belum cukup menutup lonjakan biaya dana. Ruang penyesuaian suku bunga kredit lebih lanjut dinilai terbatas, sehingga risiko tekanan NIM masih membayangi kinerja BNI ke depan.

Kualitas Kredit Membaik di Level Agregat

Sejumlah indikator kualitas aset justru membaik. Rasio loan at risk (LAR) turun ke 7,8 persen pada September 2026 dari 10,4 persen setahun sebelumnya. Kredit dalam perhatian khusus (SML) berada di 2,7 persen, sedangkan pembentukan kredit bermasalah baru (NPL formation) 1,3 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2026, di bawah rata-rata 2,0 persen pada 2022–2025. Rasio NPL bertahan di 1,9 persen.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nurkholis Syafruddin, dalam riset tertanggal 27 September 2026 menilai prospek pertumbuhan kredit BNI masih solid. Namun kemampuan bank mengonversi ekspansi kredit menjadi pertumbuhan laba masih terbatas, sehingga Mirae mempertahankan pandangan netral terhadap saham BBNI.

Bagi investor, kombinasi kredit yang tumbuh dua digit dan laba yang hanya naik 6,6 persen menunjukkan ekspansi BNI belum sepenuhnya berbuah di sisi bottom line. Selama biaya dana dan imbal hasil kredit belum membaik, tekanan margin akan tetap jadi faktor penentu kinerja BBNI hingga akhir tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index