Rupiah Menguat 0,11% ke Rp17.855, Dolar AS Melemah ke 102,178

Kamis, 08 Oktober 2026 | 09:31:01 WIB
Rupiah dibuka menguat 0,11% ke Rp17.855 per dolar AS pada Kamis (8/10/2026).

NUSAAKSARA.COM — Rupiah membuka perdagangan di level Rp17.855 per dolar AS, menguat 0,11% dari penutupan sebelumnya di Rp17.875. Penguatan ini menjadi hari ketiga berturut-turut mata uang Garuda mencatat apresiasi terhadap greenback. Pasar menanti rilis Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 yang dijadwalkan Bank Indonesia pagi ini.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat pada perdagangan Kamis (8/10/2026), melanjutkan tren positif dua sesi sebelumnya. Penguatan terjadi bersamaan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.

DXY terpantau melemah 0,06% ke posisi 102,178 pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan indeks dolar memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak naik.

Sentimen Domestik: Pasar Menanti Data IKK September

Perhatian pelaku pasar domestik tertuju pada rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 oleh Bank Indonesia yang dijadwalkan pukul 10.00 WIB hari ini. Data tersebut menjadi acuan untuk menilai seberapa kuat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi.

Pada Agustus, IKK tercatat sebesar 118,5, meningkat dari 116,8 pada Juli. Indeks yang bertahan di atas level 100 menandakan konsumen masih optimistis terhadap prospek ekonomi.

Perkembangan IKK juga menjadi indikator penting bagi prospek konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika keyakinan konsumen kembali meningkat pada September, tekanan terhadap rupiah dari sisi permintaan domestik berpotensi tetap terkendali.

Risalah FOMC: Satu Kenaikan Suku Bunga Lagi Sebelum Akhir 2026

Dari eksternal, pelaku pasar mencermati risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dirilis Kamis (8/10/2026) dini hari WIB. Risalah tersebut menunjukkan mayoritas pejabat The Federal Reserve memperkirakan masih diperlukan satu kali kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir 2026.

Dalam pertemuan September, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Berdasarkan proyeksi yang dirilis pada September, 16 dari 18 pejabat FOMC memperkirakan masih ada satu kenaikan suku bunga tahun ini, tetapi tidak memperkirakan kenaikan lanjutan pada 2027.

Belum ada kepastian apakah kenaikan berikutnya akan dilakukan pada pertemuan Oktober atau Desember. The Fed menegaskan keputusan selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan keseimbangan risiko.

"Dalam mempertimbangkan prospek kebijakan moneter setelah rapat saat ini, sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan kembali kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan sebelum akhir tahun," sebagaimana tertuang dalam risalah pertemuan FOMC.

Tekanan Dolar AS Mereda, Rupiah Dapat Ruang Apresiasi

Prospek kenaikan suku bunga AS lebih lanjut berpotensi menopang dolar AS dan meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Namun, pada perdagangan pagi ini greenback justru melemah, sehingga tekanan terhadap rupiah dari sisi penguatan dolar relatif mereda.

Bagi investor, pelemahan DXY menjadi sinyal positif jangka pendek untuk aset berdenominasi rupiah, termasuk obligasi negara dan saham. Namun, arah kebijakan The Fed hingga akhir tahun masih menjadi faktor risiko utama yang perlu dicermati, terutama jika data inflasi AS kembali mengejutkan pasar.

Pergerakan rupiah hari ini akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap data IKK September yang dirilis BI. Jika angka tersebut kembali naik, sentimen positif terhadap rupiah berpotensi berlanjut ke sesi berikutnya.

Terkini