Rupiah Melemah ke Rp17.914 per Dolar AS, Analis Ramal Konsolidasi Hari Ini

Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:31:04 WIB
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 14 poin ke level Rp17.914 per dolar AS pada Rabu (14/10) pagi.

NUSAAKSARA.COM — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.914 per dolar AS pada perdagangan Rabu (14/10) pagi. Pelemahan terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi, dengan won Korea Selatan dan ringgit Malaysia justru menguat terhadap dolar AS. Analis memperkirakan rupiah bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah terbatas sepanjang hari ini.

Sejumlah mata uang Asia menguat, dipimpin won Korea Selatan sebesar 0,45 persen, disusul ringgit Malaysia 0,10 persen dan peso Filipina 0,01 persen. Sementara dolar Singapura melemah 0,02 persen dan yen Jepang turun 0,04 persen. Yuan China dan dolar Hong Kong bergerak datar.

Mata Uang Negara Maju Kompak Menguat

Berbeda dengan Asia, mata uang utama negara maju bergerak serempak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa terapresiasi 0,07 persen, poundsterling Inggris naik 0,09 persen, dan dolar Australia menguat 0,10 persen.

Dolar Kanada mencatat kenaikan 0,08 persen, sedangkan franc Swiss terapresiasi 0,06 persen. Penguatan serentak mata uang negara maju ini memberi gambaran bahwa tekanan terhadap dolar AS tidak merata di seluruh kawasan.

Harga Minyak Jadi Penekan Utama Rupiah

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan hari ini. Faktor utama yang menekan adalah kenaikan kembali harga minyak dunia.

"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/10).

Kenaikan harga minyak umumnya berdampak langsung pada negara importir energi seperti Indonesia. Beban impor energi yang membesar berpotensi menekan neraca perdagangan dan permintaan terhadap dolar AS meningkat.

Dua Faktor yang Menahan Pelemahan Lebih Dalam

Meski tertekan, Lukman menilai ada dua faktor yang berpotensi menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Pertama, koreksi indeks dolar AS yang sedang berlangsung. Kedua, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST).

Penurunan yield UST terjadi menyusul pernyataan dovish pejabat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Sikap dovish ini memberi sinyal bahwa The Fed tidak akan agresif menaikkan suku bunga, sehingga daya tarik dolar AS terhadap mata uang emerging market berkurang.

"Investor masih cenderung wait and see mengantisipasi data inflasi AS malam ini," kata Lukman.

Rentang Gerak Rupiah Hari Ini

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan ekspektasi pergerakan terbatas dengan bias pelemahan.

Bagi pelaku pasar dan investor, data inflasi AS yang dirilis malam nanti menjadi katalis utama yang perlu dicermati. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mendorong dolar AS menguat kembali dan menekan rupiah ke batas atas rentang proyeksi.

Sebaliknya, inflasi yang melandai akan memperkuat ekspektasi dovish The Fed dan memberi ruang bagi rupiah untuk stabil atau berbalik menguat terbatas. Pergerakan mata uang kawasan Asia lainnya juga tetap perlu dipantau sebagai pembanding arah dolar AS.

Terkini