Menperin: Pertumbuhan Ekonomi 1% Kini Serap 300 Ribu Tenaga Kerja

Kamis, 15 Oktober 2026 | 14:01:32 WIB
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji memberikan keterangan kepada wartawan di Balai Diklat Industri, Jakarta Timur, Kamis (15/10/2026).

NUSAAKSARA.COM — Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan kemampuan pertumbuhan ekonomi menciptakan lapangan kerja terus menurun. Jika dulu setiap 1% pertumbuhan ekonomi mampu menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, kini angka 300.000 sudah tergolong bagus.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan hal tersebut di Balai Diklat Industri, Jakarta Timur, Kamis (15/10/2026). Menurutnya, pergeseran karakter industri menjadi penyebab utama melambatnya penyerapan tenaga kerja di sektor pengolahan.

"Kalau dulu per 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, hari ini hampir bisa 300.000 itu sudah cukup bagus," kata Sarmuji.

Industri Pengolahan Serap Lebih dari 20 Juta Pekerja

Sarmuji menyebut industri pengolahan Indonesia telah menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja. Namun, perkembangan teknologi membuat industri yang sebelumnya mengandalkan banyak pekerja mulai beralih menggunakan teknologi dalam proses produksinya.

"Yang dulu sangat padat karya, sekarang sudah memasukkan teknologi yang sangat mungkin untuk penyerapan tenaga kerjanya menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya," ujarnya.

Artinya, percepatan pertumbuhan industri belum tentu diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang memiliki penduduk usia produktif dalam jumlah besar.

Teknologi Ubah Wajah Industri Padat Karya

Pergeseran dari industri padat karya ke padat modal dan teknologi menjadi pemicu utama. Sektor manufaktur yang dulu menyerap ribuan pekerja untuk satu lini produksi kini bisa beroperasi dengan jumlah pekerja jauh lebih sedikit berkat otomatisasi dan digitalisasi.

Sarmuji menilai tren ini tidak bisa dihindari. Industri tetap tumbuh, tetapi pola penyerapan tenaga kerjanya berubah secara struktural.

Kirim Tenaga Kerja Terampil ke Luar Negeri Jadi Opsi

Sebagai salah satu solusi, pemerintah dapat mendorong pengiriman tenaga kerja terampil ke luar negeri. Menurutnya banyak negara maju membutuhkan pekerja karena menghadapi stagnasi hingga penurunan jumlah penduduk.

"Salah satu solusinya adalah kita bisa mengirimkan tenaga kerja kita yang terampil untuk mengisi pos-pos yang sebenarnya dibutuhkan bagi negara lain," jelasnya.

Ia mencontohkan Jepang, Korea Selatan, Qatar, hingga Singapura sebagai negara yang menghadapi tantangan demografi. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia untuk mengisi kebutuhan pekerjaan di negara-negara tersebut.

Bonus Demografi Indonesia Jadi Modal

Indonesia masih memiliki bonus demografi dengan jumlah tenaga kerja produktif yang besar. Sarmuji menilai modal ini bisa dimanfaatkan jika tenaga kerja dibekali keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar global.

"Kita punya bonus demografi, punya tenaga kerja produktif yang banyak yang kalau dilatih bisa mengisi lapangan kerja yang ada di luar negeri yang kebetulan banyak negara-negara maju ternyata pertumbuhan penduduknya stagnan bahkan mengalami penurunan," tutup Sarmuji.

Bagi pelaku industri dalam negeri, pernyataan ini menegaskan bahwa investasi pada teknologi produksi akan terus meningkat. Sementara bagi pencari kerja, peluang terbesar ke depan ada di sektor jasa, industri teknologi, dan pasar tenaga kerja lintas negara.

Terkini