SKK Migas Bangun 2 Kilang LPG di Jambi Merang dan Tomori, Rampung 2027

Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:00:31 WIB
Kilang LPG Tomori dirancang mengolah gas 5 MMscfd dengan kandungan C3-C4 mencapai 20 persen.

NUSAAKSARA.COM — SKK Migas menargetkan dua kilang LPG di Jambi Merang, Sumatra Selatan, dan Tomori, Sulawesi Tengah, selesai dibangun tahun depan. Proyek ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan gas domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor LPG.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan kedua kilang tersebut tengah memasuki tahap persiapan yang berbeda. Kilang Tomori masih dalam penyusunan program dan anggaran, sedangkan Jambi Merang menunggu alokasi gas dan proses tender.

"Tahun depan harus dimulai, sekarang lagi disusun program and budget-nya [proyek Tomori]. Kalau yang di Jambi Merang lagi diusulkan untuk alokasi gasnya sama pemenang tendernya nanti lagi diproses," kata Djoksis kepada awak media di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).

Kapasitas Kilang Tomori dan Kandungan C3-C4

Kilang LPG Tomori dirancang mengolah gas sebesar 5 juta kaki kubik standar per hari (MMscfd). Yang menarik, kandungan C3—C4 dari gas yang diolah tergolong tinggi, mencapai 20%.

Kandungan C3—C4 yang tinggi ini membuat gas dari Tomori ekonomis untuk diolah menjadi LPG. Semakin besar proporsi C3 dan C4, semakin banyak LPG yang bisa diproduksi dari setiap kaki kubik gas yang masuk ke kilang.

Skala Jambi Merang Lebih Besar

Kilang LPG Jambi Merang memiliki kapasitas pengolahan gas yang ditargetkan mencapai 150 MMscfd, jauh lebih besar dibanding Tomori. Dengan kapasitas sebesar itu, Jambi Merang berpotensi menjadi salah satu pemasok LPG utama dari Sumatra bagian selatan.

Namun, proyek Jambi Merang masih menunggu dua hal krusial: alokasi gas dari hulu dan penetapan pemenang tender konstruksi. Tanpa kepastian pasokan gas, kilang tidak bisa beroperasi optimal meski pembangunannya selesai.

Mengapa Kilang LPG Baru Dibutuhkan

Indonesia masih mencatat impor LPG dalam jumlah besar setiap tahunnya. Pembangunan kilang dalam negeri menjadi salah satu cara mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan memperkuat ketahanan energi.

Gas dari lapangan seperti Tomori dan Jambi Merang sebelumnya lebih banyak dialirkan untuk kebutuhan ekspor atau industri. Dengan adanya kilang LPG, gas tersebut bisa diolah menjadi produk yang langsung dibutuhkan rumah tangga dan usaha kecil.

Pemerintah melalui SKK Migas menempatkan proyek ini sebagai bagian dari strategi hilirisasi gas. Alih-alih menjual gas mentah, gas diolah lebih dulu menjadi LPG yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Jika kedua kilang rampung sesuai target pada 2027, pasokan LPG domestik diperkirakan meningkat. Dampaknya bisa dirasakan pada berkurangnya volume impor dan stabilitas harga LPG di pasar dalam negeri.

Yang perlu dicermati, target 2027 bergantung pada kecepatan penyelesaian alokasi gas dan tender. Dua proses itu kerap menjadi titik macet dalam proyek migas di Indonesia.

Terkini