NUSAAKSARA.COM — Pemerintah mengidentifikasi potensi ekspor yang belum tergarap senilai total USD 60,5 miliar di empat pasar utama: RRT, Amerika Serikat, Jepang, dan India. Pemetaan ini menjadi dasar strategi penguatan ekspor berbasis komoditas dan pasar yang disusun Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Bagi pelaku usaha, angka tersebut menunjukkan di mana peluang terbesar berada.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemetaan tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi perkembangan neraca perdagangan nasional. Berdasarkan hasil pemetaan, Indonesia masih memiliki ruang untuk meningkatkan ekspor ke sejumlah pasar utama.
Potensi terbesar berada di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan export gap mencapai US$31 miliar. Selisih itu terutama terbuka pada komoditas mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia.
Amerika Serikat menyusul dengan potensi US$14 miliar, antara lain pada kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia. India menawarkan ruang US$10 miliar dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati. Jepang melengkapi dengan US$5,5 miliar, dengan peluang utama pada produk mineral dan logam, hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia.
Empat Pasar dengan Ruang Ekspor Terbesar
Rincian export gap atau selisih antara nilai ekspor saat ini dan potensi ekspor maksimal di negara tujuan itu dirangkum dari data 2025. Angka-angka tersebut memberi gambaran konkret bagi eksportir soal komoditas mana yang paling prospektif di masing-masing pasar.
- RRT: US$31 miliar — mineral dan logam, sumber daya mineral, mesin dan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, produk kimia
- Amerika Serikat: US$14 miliar — kendaraan, mineral dan logam, mesin dan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, produk kimia
- India: US$10 miliar — mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, produk nabati
- Jepang: US$5,5 miliar — mineral dan logam, hasil laut, produk nabati, bahan kimia
Pendekatan Berbasis Komoditas dan Pasar
Airlangga menegaskan strategi ekspor tidak cukup hanya lewat pencarian pasar baru. Pemerintah memilih memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia, dengan menyelaraskan potensi produksi dalam negeri dan kebutuhan negara tujuan.
"Pemerintah memandang perkembangan ini perlu direspon melalui penguatan strategi ekspor berbasis komoditas dan pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan antara ekspor Indonesia dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi pelaku usaha," kata Airlangga.
Pendekatan itu mempertemukan potensi produksi domestik dan kebutuhan spesifik negara tujuan. Cakupannya meliputi sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, serta manufaktur. Pengembangan produk elektronik dan teknologi serta produk telekomunikasi juga masuk dalam pemetaan potensi ekspor.
"Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia," tutur Airlangga.
Hambatan Regulasi hingga Standarisasi Jadi Fokus
Sebagai dukungan konkret, pemerintah memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga bersama pelaku usaha. Sasaran utamanya mengurai hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standarisasi persyaratan pasar, hingga kendala teknis di lapangan.
Airlangga menuturkan optimalisasi pasar utama tidak hanya diarahkan pada peningkatan nilai ekspor secara agregat. Pemerintah juga menargetkan penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas agar peluang pasar yang masih terbuka bisa dikonversi menjadi ekspor yang lebih konkret.
"Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret," ujar Airlangga.
Bagi pelaku usaha, peta export gap ini bisa dibaca sebagai daftar prioritas. Sektor yang disebut berulang di keempat pasar — mineral dan logam, mesin dan elektronik, serta produk kimia — muncul sebagai komoditas dengan permintaan impor paling konsisten di negara mitra dagang utama.