Rupiah Melemah 0,09% ke Rp18.076 per Dolar AS, Tekanan Risk-Off Global Menguat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:30:31 WIB
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,09 persen ke level Rp18.076 per dolar AS pada Jumat (23/10) pagi.

NUSAAKSARA.COM — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp18.076 per dolar AS pada perdagangan Jumat (23/10) pagi, melanjutkan tekanan dari penutupan sebelumnya. Sentimen penghindaran risiko di pasar global menjadi pemicu utama, meski pasar saham domestik masih menyimpan peluang penopang.

Posisi Rp18.076 per dolar AS menempatkan rupiah di zona lemah sejak awal sesi. Pelemahan 0,09 persen terbilang tipis, tetapi arahnya konsisten dengan pergerakan mata uang kawasan yang bervariasi terhadap dolar AS.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut tekanan eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah. Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Asia Pasifik Bervariasi, Won dan Peso Filipina Justru Menguat

Di kawasan Asia, won Korea Selatan terapresiasi 0,27 persen dan peso Filipina menguat 0,17 persen. Yuan China bergerak datar di tengah tekanan eksternal yang sama.

Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah 0,02 persen dan dolar Singapura turun 0,02 persen. Yen Jepang terkoreksi 0,11 persen, sementara dolar Hong Kong terdepresiasi 0,06 persen.

Mata Uang Negara Maju: Dolar Kanada Satu-satunya yang Menguat

Dolar Kanada menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS. Euro melemah 0,06 persen, pound sterling Inggris turun 0,05 persen, dolar Australia terkoreksi 0,12 persen, dan franc Swiss melemah 0,05 persen.

Pola ini menunjukkan dolar AS masih menjadi tujuan utama arus modal saat investor mengurangi eksposur ke aset berisiko.

Tiga Pemicu Risk-Off yang Menekan Rupiah

Lukman membeberkan tiga faktor yang membentuk sentimen penghindaran risiko di pasar global. Pertama, kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan (AI) yang membebani selera risiko investor.

Kedua, eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong perpindahan dana ke aset safe haven. Ketiga, memburuknya kondisi fiskal di Prancis yang menambah ketidakpastian di Eropa.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk-off global akibat kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan (AI), eskalasi geopolitik di Timur Tengah, dan memburuknya kondisi fiskal di Prancis," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Pasar Saham Domestik Jadi Harapan Penopang

Di tengah tekanan eksternal, Lukman menilai pergerakan rupiah masih berpeluang ditopang sentimen pasar saham domestik. Jika sentimen tersebut tetap membaik, rupiah berpotensi memperoleh dukungan.

Bagi investor, rentang Rp17.900 hingga Rp18.100 menjadi acuan penting untuk membaca arah jangka pendek. Posisi Rp18.076 berada di bagian atas rentang, artinya ruang penguatan masih terbuka bila arus risk-off mereda.

Pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas perlu mencermati pergerakan sesi siang. Pelemahan tipis seperti 0,09 persen bisa membesar bila sentimen global memburuk menjelang penutupan.

Terkini