Arfadia Kembangkan GEO, Raih 15 Calon Klien per Hari dari Rekomendasi AI

Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:01:05 WIB
Arfadia mencatat sekitar 15 calon klien per hari sejak Maret 2026 setelah beralih ke strategi generative engine optimization (GEO).

NUSAAKSARA.COM — Arfadia mencatat sekitar 15 calon klien per hari dari berbagai negara sejak Maret 2026, dengan 83 persen di antaranya mengaku direkomendasikan asisten AI. Capaian itu datang setelah perusahaan agensi digital ini banting setir dari optimasi mesin pencari konvensional ke generative engine optimization (GEO). Perubahan perilaku calon klien yang kini melakukan riset awal lewat ChatGPT dan Gemini menjadi pemicu utama.

Pendiri sekaligus CEO Arfadia, Tessar Napitupulu, menyebut pergeseran itu sebagai titik balik bisnis yang ia bangun sejak 2008. Selama bertahun-tahun, Arfadia bergantung pada trafik pencarian Google. Ketika ChatGPT meledak pada akhir 2022, Tessar menyadari pola orang berubah: mereka ingin AI yang meriset dan menyimpulkan, bukan sekadar menampilkan tautan.

Arfadia pun mulai mempelajari cara mesin AI memilih sumber dan merek yang disebut dalam jawabannya. Pada 2023, perusahaan menawarkan layanan GEO agar merek ditemukan, dikutip, dan direkomendasikan oleh layanan seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, Claude, dan Grok.

Dari Titik Terendah ke Meja Makan Ibu

Langkah itu bukan tanpa beban. Tessar mengaku sempat terseret masalah dari salah satu proyek besar yang membuat modal perusahaan tergerus. Tagihan dan tuntutan datang bersamaan, memaksanya melepas aset satu per satu untuk menyelesaikan kewajiban.

"Semuanya datang serentak, seakan hidup menguji seberapa kuat saya bisa berdiri. Saya nyaris putus asa, karena bebannya terlalu berat untuk dipikul sendiri. Tetapi justru di titik terendah itu saya menemukan alasan untuk tidak menyerah," tutur Tessar.

Ia menyebut rumah ibunya sebagai tempat memulai lagi. "Dari meja makan di rumah beliau, saya perlahan membangun kembali usaha dan hidup saya," katanya.

Pengalaman itu juga mengubah cara Arfadia menyaring proyek dan menilai klien sebelum menerima pekerjaan. Seiring popularitas ChatGPT memuncak, jumlah klien Arfadia sempat menurun sebelum strategi GEO mulai membuahkan hasil.

Empat Gerbang Sebelum Merek Dikutip AI

Riset Arfadia berlangsung lebih dari setahun sebelum dituangkan dalam dua buku. Buku pertama, Found Before They Search: The Indonesia Digital Playbook for SEO, GEO, and AI Search, terdiri dari 27 bab. Buku kedua, Cited or Silent: The Definitive GEO, AEO & AI Visibility Playbook, memiliki 91 bab dan edisi bahasa Indonesianya terbit pada Juni 2026.

Salah satu kerangka dalam buku membagi perjalanan konten menjadi empat gerbang sebelum dikutip AI:

  • Dapat dirayapi (crawlable), apakah mesin bisa mengakses halaman situs
  • Terindeks (indexed), apakah halaman masuk basis data mesin pencari
  • Relevan dengan pertanyaan yang diajukan pengguna
  • Melewati seleksi akhir sebelum muncul di jawaban AI

Menurut kerangka itu, sebuah bisnis bisa gagal di gerbang mana pun tanpa disadari. Dari luar, kegagalan pada setiap tahap terlihat sama, dengan patokan sederhana: merek tidak muncul dalam jawaban AI.

Arfadia juga menerbitkan tiga laporan riset terbuka dengan DOI terdaftar di Zenodo, yakni State of SEO in Indonesia 2026, AI Citation Rate Report 2026, dan Indonesia Digital Marketing Benchmark 2026.

Pasar Internasional dan Perubahan Perilaku Klien

Kini Arfadia menggarap pasar internasional bersama Nicolas Magor, CMO & Head of International Growth. Perusahaan memiliki lebih dari 120 profesional di tiga kantor: Jakarta, Bandung, dan Bali.

Tessar mengakui proses pengambilan keputusan calon klien ikut berubah. "Dulu, memilih agensi itu perjalanan panjang yang berjenjang. Sekarang riset awalnya sudah dikerjakan AI, sehingga ketika calon klien menghubungi kami, mereka sudah mengenal kami sebelum kami berbicara apa pun," tuturnya.

Bagi pelaku usaha, perubahan ini memunculkan dua pertanyaan penting. Pertama, apakah merek mereka muncul ketika calon pelanggan bertanya ke asisten AI. Kedua, pihak mana yang punya rekam jejak membantu mereka tampil di respons AI.

Apa yang Perlu Dibenahi Pelaku Usaha

Tessar menilai pemilik usaha butuh strategi lebih dari sekadar mengecek merek di Google dan TikTok. Jika pesaing disebut AI tetapi bisnis sendiri tidak, ada beberapa hal yang perlu ditelusuri.

"Apakah informasi tentang usaha kita sulit ditemukan, keunggulannya tidak jelas, atau belum ada cukup sumber yang mendukung reputasinya? Dari situ baru kita tahu apa yang perlu dibenahi," katanya.

Perjalanan Tessar membawanya masuk Forbes Agency Council dan daftar Top 10 Leaders in Advertising Services in Indonesia 2023 versi CEO Insights Asia. "Saya pernah kehilangan hampir segalanya karena keputusan yang salah. Ketika AI datang, saya tidak mau kehilangan lagi hanya karena terlambat belajar," ujarnya.

Terkini