Antisipasi Risiko Kekeringan, Kementan Dorong Petani Tanam Varietas Padi Adaptif

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:00:00 WIB
Foto: Dok. Kementan.

NUSA AKSARA – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani di berbagai daerah memanfaatkan varietas padi adaptif guna mengantisipasi potensi kekeringan akibat musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal pada 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah antisipatif. Upaya tersebut meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan sistem peringatan dini (early warning system), hingga percepatan tanam di berbagai sentra produksi padi.

Selain itu, Kementan juga menekankan pentingnya optimalisasi pengelolaan sumber daya air melalui peningkatan sistem irigasi, pompanisasi, dan perpipaan agar pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga.

“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Amran seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat. Wilayah tersebut antara lain sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian telah mengembangkan berbagai varietas unggul yang adaptif terhadap kondisi kekeringan.

Menurutnya, varietas tersebut dirancang agar tetap mampu berproduksi meski dalam kondisi ketersediaan air terbatas, sekaligus memiliki umur panen yang relatif singkat.

“Varietas padi tahan cekaman kekeringan seperti Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas padi gogo kelompok Inpago dirancang agar tetap mampu berproduksi pada kondisi ketersediaan air terbatas. Selain itu, terdapat pula varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana yang dapat dipanen lebih cepat sehingga membantu tanaman menghindari periode kekeringan,” jelas Fadjry.

Ia menambahkan, pemanfaatan varietas adaptif menjadi bagian dari strategi teknologi untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi di tengah dinamika perubahan iklim.

“Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, khususnya di wilayah rawan kekeringan atau sawah tadah hujan, sehingga produksi padi nasional tetap terjaga dan ketahanan pangan dapat terus diperkuat,” tegasnya.

Melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Kementerian Pertanian juga terus memperkuat pemanfaatan inovasi teknologi untuk meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan varietas unggul adaptif serta penerapan teknologi budidaya yang tepat di tingkat petani.

(CHY/CTA)

Tags

Terkini