NUSA AKSARA – Pemerintah meresmikan pendaratan Sistem Kabel Bawah Laut Nongsa-Changi di Batam, Kepulauan Riau, sebagai langkah strategis memperkuat konektivitas digital Indonesia dengan Singapura sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem ekonomi digital nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan infrastruktur tersebut menjadi fondasi lahirnya koridor digital baru yang menghubungkan Indonesia dan Singapura melalui salah satu jalur konektivitas digital tercepat di Asia Tenggara.
“Hari ini kita merayakan pendaratan Sistem Kabel Bawah Laut Nongsa-Changi. Infrastruktur ini menjadi fondasi fisik bagi koridor digital baru yang memperkuat salah satu koneksi digital tercepat dan terdekat di Asia Tenggara antara Indonesia dan Singapura,” ujar Airlangga dalam acara pendaratan kabel di Batam, Senin (20/7).
Sistem kabel bawah laut yang dikembangkan Telin bersama BW Digital itu memiliki kapasitas tambahan lebih dari 1,6 petabit per detik dengan latensi di bawah 2 milidetik antara Indonesia dan Singapura.
Menurut Airlangga, kapasitas besar dengan latensi rendah tersebut akan mendukung berbagai layanan digital strategis, mulai dari komputasi awan tingkat lanjut, pengembangan dan inferensi kecerdasan artifisial (AI), transaksi keuangan berfrekuensi tinggi, hingga layanan digital generasi berikutnya.
Ia menilai keberadaan kabel Nongsa-Changi bukan hanya memperkuat infrastruktur konektivitas, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan koridor digital baru di kawasan Asia Tenggara.
Pemerintah menyebut pembangunan infrastruktur digital tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transformasi digital nasional sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi masa depan. Upaya itu didukung melalui penguatan konektivitas, penyediaan energi berkelanjutan, serta kepastian berusaha yang transparan dan dapat diprediksi.
Saat ini Indonesia memiliki sekitar 235,26 juta pengguna internet dengan tingkat penetrasi mencapai 81,72 persen. Jumlah pelanggan broadband tetap tercatat sebanyak 99,5 juta.
Indonesia juga dinilai memiliki prospek besar dalam pengembangan AI. Nilai pasar AI nasional diperkirakan mencapai US$70 miliar, menjadikannya pasar AI terbesar keempat di Asia setelah China, India, dan Jepang.
Dalam kesempatan itu, Airlangga menilai Batam berkembang sebagai gerbang digital kedua Indonesia setelah Jakarta. Posisi strategis, konektivitas internasional, pasokan energi, dan iklim investasi dinilai menjadi faktor utama yang mendorong perkembangan tersebut.
Ia menjelaskan fasilitas pusat data NDP1 milik BW Digital di Nongsa Digital Park memiliki kapasitas teknologi informasi sebesar 120 megawatt (MW). Sementara itu, DayOne bersama Indonesia Investment Authority (INA) tengah mengembangkan kampus pusat data hyperscale dengan pasokan listrik terkontrak hingga 450 MW. Selain itu, Oracle juga telah menetapkan Batam sebagai Indonesia North Cloud Region.
Penguatan ekosistem digital di Batam turut didorong melalui kerja sama Indonesia-Singapura dalam kerangka 6 Working Group (6WG), khususnya di kawasan Batam-Bintan-Karimun (BBK). Proyek kabel Nongsa-Changi menjadi salah satu tindak lanjut dari pertemuan Leaders’ Retreat antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura pada awal Juli 2026.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat dukungan terhadap industri digital melalui penyediaan energi dan reformasi kebijakan investasi. Indonesia menargetkan penambahan kapasitas energi terbarukan dan bauran energi hingga lebih dari 100 gigawatt (GW) dalam dekade ini.
Pemerintah juga tengah melanjutkan proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) serta Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebagai upaya menciptakan iklim usaha yang semakin transparan dan kompetitif.
Airlangga berharap pembangunan koridor digital Indonesia-Singapura tidak hanya memperkuat infrastruktur, tetapi juga menjadi simbol kepercayaan dan kemitraan kedua negara.
“Mari kita bangun koridor digital ini, tidak hanya dengan kabel dan pusat data, tetapi juga dengan kepercayaan, kemitraan, dan visi bersama. Semoga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh Indonesia dan Singapura, tetapi juga oleh seluruh kawasan ASEAN dan dunia,” katanya.