China Janji Serap 10 Juta Ton Batu Bara AS per Tahun Usai KTT Trump-Xi

Senin, 28 September 2026 | 11:00:31 WIB
China berkomitmen menyerap hingga 10 juta ton batu bara AS per tahun sebagai hasil KTT Trump-Xi.

NUSAAKSARA.COM — China berkomitmen menyerap hingga 10 juta ton batu bara Amerika Serikat setiap tahun, angka yang disebut analis Citigroup realistis dibandingkan volume perdagangan 2024. Janji ini menjadi hasil paling konkret dari pertemuan puncak Donald Trump dan Xi Jinping, meski impor batu bara AS ke China praktis terhenti sejak perang tarif awal 2025.

Pasar batu bara China yang menyerap lebih dari 12 juta ton komoditas AS pada 2024 dinilai cukup besar untuk menampung kembali pasokan dalam jumlah tersebut. Analis Citigroup Inc., Xiangrong Yu, menyebut target 10 juta ton per tahun "terlihat realistis jika dibandingkan dengan volume perdagangan aktual 2024" dalam catatan risetnya.

Komitmen ini muncul di tengah produksi dalam negeri China yang mengecewakan dan ketidakpastian pasokan dari pemasok utama mereka, Indonesia. Dua faktor itu membuat Beijing punya alasan ekonomi nyata untuk membuka kembali keran impor dari AS, terlepas dari tensi geopolitik yang masih berlangsung.

Mengapa Impor Batu Bara AS Sempat Nol

China praktis menghentikan pembelian batu bara AS sejak perselisihan tarif meletus pada awal 2025. Sebelumnya, pada 2024, China memborong lebih dari 12 juta ton batu bara AS untuk kebutuhan pembangkit listrik dan industri baja.

Angka itu menunjukkan hubungan dagang energi kedua negara sebenarnya sudah terbangun mapan sebelum tarif saling balas mengguncangnya. Kini, janji pembelian 10 juta ton per tahun menjadi ujian apakah kesepakatan politik di level puncak bisa diterjemahkan menjadi transaksi nyata di pelabuhan.

Posisi Indonesia sebagai Pemasok Utama China

Indonesia selama ini menjadi pemasok batu bara utama bagi China. Ketidakpastian pasokan dari RI — yang disebut dalam laporan Bloomberg sebagai salah satu pemicu munculnya janji impor dari AS — membuka ruang bagi negara lain mengisi celah.

Bagi pasar batu bara global, masuknya kembali AS ke China dalam volume besar berpotensi menggeser peta perdagangan. Namun besarnya volume yang dialihkan bergantung pada seberapa cepat pasokan Indonesia kembali normal dan seberapa konsisten Beijing menjalankan komitmennya.

Yang Masih Harus Dibuktikan

Janji 10 juta ton per tahun baru sebatas komitmen politik. Belum ada rincian jadwal pengiriman, harga acuan, maupun mekanisme kontrak yang disepakati kedua negara.

Pasar akan menguji apakah angka itu benar-benar terealisasi atau hanya menjadi simbol rekonsiliasi dagang. Sebab, selama tarif masih berlaku, insentif ekonomi untuk membeli batu bara AS tetap lebih lemah dibandingkan sumber lain yang lebih murah.

Bagi China, keputusan membuka keran impor juga punya dimensi strategis: mengurangi ketergantungan pada satu pemasok, sekaligus memberi AS insentif untuk melunakkan sikap dalam negosiasi dagang berikutnya.

Terkini