NUSAAKSARA.COM — Investor asing membukukan aksi jual bersih Rp365,88 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi I perdagangan Selasa (29/9/2026), saat IHSG ditutup turun 12,86 poin atau 0,21% ke level 6.135. Tekanan jual meningkat setelah kebijakan harga minimum saham baru BEI mulai berlaku, ditambah penguatan dolar AS dan kenaikan harga energi yang membebani pasar negara berkembang.
Data Stockbit Sekuritas mencatat nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp5,61 triliun, dengan rincian foreign buy Rp2,62 triliun dan foreign sell Rp2,99 triliun. Selisih keduanya menghasilkan net foreign sell Rp365,88 miliar di seluruh pasar.
IHSG bergerak fluktuatif sejak pembukaan di posisi 6.118,81. Indeks sempat menyentuh titik terendah harian 6.013,08 sekitar pukul 09.30 WIB, lalu berbalik menguat ke level tertinggi 6.150,55 menjelang pukul 11.00 WIB, sebelum aksi ambil untung menyeretnya kembali ke zona merah.
Nilai transaksi sesi I tercatat Rp7,34 triliun dengan volume 231 juta lot. Sebanyak 451 saham melemah, 262 saham stagnan, dan hanya 250 saham menguat.
ADMF Jadi Sasaran Utama, Disusul BMRI dan BBCA
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (ADMF) menanggung aksi jual asing terbesar dengan nilai Rp243,05 miliar, jauh melampaui saham lain. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyusul dengan pelepasan Rp104,54 miliar, disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Rp75,20 miliar.
Asing juga melepas saham telekomunikasi dan energi. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dijual Rp63,57 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) Rp39,89 miliar, dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) Rp38,33 miliar.
Tekanan serupa terlihat pada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) Rp33,59 miliar, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp25,07 miliar, PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL) Rp10,34 miliar, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) Rp10,03 miliar.
BBRI dan TPIA Jadi Buruan Investor Global
Di tengah tekanan jual, sejumlah saham tetap dikoleksi asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memimpin dengan pembelian bersih Rp66,87 miliar, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) Rp30,93 miliar.
Asing juga memborong PT Astra International Tbk. (ASII) Rp21,68 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) Rp17,10 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) Rp15,41 miliar.
Deretan net foreign buy lainnya mencakup PT Indosat Tbk. (ISAT) Rp14,65 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp13,27 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Rp12,38 miliar, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) Rp11,51 miliar, dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp9,99 miliar.
Kebijakan Harga Minimum Saham BEI Picu Tekanan Jual
Volatilitas sesi I bertepatan dengan berlakunya kebijakan BEI yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan pasar tunai sejak Senin (28/9/2026). Aturan baru ini memicu tekanan jual pada sejumlah saham "gocap".
Dari eksternal, kebijakan moneter global yang lebih ketat, penguatan dolar AS, dan kenaikan harga energi masih membayangi pasar keuangan negara berkembang. Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan, menambah beban bagi investor yang memegang aset berdenominasi rupiah.
Apa Artinya bagi Investor
Pola net sell yang terkonsentrasi di saham perbankan besar dan komoditas energi menunjukkan asing sedang mengurangi eksposur ke sektor siklikal. Sebaliknya, masuknya dana ke BBRI dan TPIA mengindikasikan seleksi ketat terhadap saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas tinggi.
Investor perlu mencermati kelanjutan arus asing di sesi II, terutama apakah tekanan jual berlanjut pasca pemberlakuan aturan harga minimum saham atau mereda seiring pasar mencerna kebijakan baru tersebut.