NUSAAKSARA.COM — Sebanyak 116 orang tewas di kawasan pendakian gunung Indonesia antara 2022 hingga Agustus tahun ini, dengan 27 kematian disebabkan langsung oleh erupsi gunung berapi. Otoritas vulkanologi dan tim penyelamat menyoroti perilaku sejumlah kreator konten yang nekat mendaki ke kawah demi konten media sosial, meski larangan telah diberlakukan. Tiga wisatawan dilaporkan meninggal dunia setelah mendaki ke kawah Gunung Dukono pada Mei 2026.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, meminta para kreator konten mengambil peran lebih besar dalam mendorong wisata gunung berapi yang bertanggung jawab. Ia menilai promosi cara berkunjung yang lebih aman lebih penting ketimbang sekadar mendukung pelarangan.
Seruan itu muncul setelah serangkaian insiden yang melibatkan pendaki dan pembuat konten di sejumlah gunung berapi aktif Indonesia. Data Perhimpunan Pemandu Gunung Indonesia mencatat 116 kematian di kawasan pendakian sepanjang 2022 hingga Agustus tahun ini, dan 27 di antaranya akibat erupsi.
Momen Mencekam di Kawah Gunung Dukono
Kreator konten Jonathan Le Blanc merasakan langsung bahaya yang mengintai saat mendaki Gunung Dukono, gunung berapi setinggi 1.273 meter di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada April 2025. Dari bibir kawah, kameranya merekam semburan gas dan abu bersuhu sangat tinggi yang meluncur ke udara.
Ia langsung menutupi mulutnya dan bergegas turun. "Ada gas beracun, kita harus lari sekarang," katanya kepada kamera, sementara kakinya beberapa kali terpeleset di lereng.
Le Blanc, travel blogger yang videonya ditonton ratusan ribu kali, mengaku selalu mematuhi aturan setempat dan tidak pernah meminta pemandu membawanya ke area berbahaya. "Kami sangat menekankan aspek keselamatan," ujarnya. "Pada saat yang sama, kami juga berusaha menyeimbangkannya dengan pembuatan video yang tetap menarik untuk ditonton."
Tragedi Setelah Larangan Pendakian Berlaku
Setahun setelah pendakian Le Blanc, Gunung Dukono menjadi lokasi tragedi. Pada Mei 2026, tiga wisatawan meninggal dunia setelah mendaki hingga ke kawah, meskipun larangan pendakian telah diberlakukan beberapa pekan sebelumnya.
Polisi setempat menyatakan kelompok itu mengabaikan peringatan, dan menambahkan bahwa banyak pendaki merupakan wisatawan asing yang ingin membuat konten media sosial. Namun, saudari tiri salah satu korban membantah kepada media lokal bahwa kakaknya mendaki demi foto media sosial, melainkan karena kecintaannya pada alam.
Risiko yang Ditanggung Tim Penyelamat
Agam Rinjani, penyelamat asal Indonesia, memahami betul harga yang harus dibayar ketika perjalanan ke gunung berapi berakhir malapetaka. Pada 2025, ia menjadi bagian dari tim beranggotakan 50 orang yang mengevakuasi jenazah Juliana Marins, wisatawan Brasil berusia 26 tahun yang terjatuh ke kawah Gunung Rinjani setinggi 3.726 meter.
Keberaniannya menuai pujian di internet, tetapi bahaya misi itu masih membekas. "Setelah evakuasi itu, alhamdulillah saya masih hidup. Saya sempat berkata kepada diri sendiri bahwa saya tidak mau melakukan ini lagi, karena menakutkan," katanya. "Namun setelah itu, saya mendapat panggilan untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat di Makassar baru-baru ini dan saya berangkat ke sana. Sulit untuk menolak."
Rinjani mengungkap sejumlah pendaki tetap sibuk merekam dengan ponsel bahkan saat sedang dievakuasi. Salah satunya seorang pendaki yang terjatuh sekitar 200 meter ke bawah dari sebuah gunung. "Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari ponselnya untuk mulai merekam. Saya berkata, 'Tidak', lalu memasangkan tali pengaman evakuasi ke tubuhnya," ujarnya.
Beban Berganda saat Kecelakaan Terjadi
Rinjani mengingatkan bahwa pendaki yang kurang siap tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga para petugas yang harus menyelamatkan mereka. "Ketika Anda tidak memperhatikan keselamatan, dampaknya bisa menyulitkan diri Anda sendiri, keluarga Anda, orang-orang di sekitar Anda, tim penyelamat, keluarga mereka, bahkan para petugas," katanya. "Ketika kecelakaan terjadi, beban yang ditanggung begitu banyak orang menjadi sangat besar."
Dengan keterbatasan infrastruktur di daerah terpencil, tim penyelamat lokal yang menangani keadaan darurat semacam ini menghadapi risiko sangat besar setiap kali diturunkan ke lapangan.
PVMBG dan sejumlah pemandu gunung berharap para kreator konten mengedepankan keselamatan dalam setiap produksi video, terutama di gunung berapi aktif yang statusnya terus dipantau. Edukasi soal jalur aman dan larangan mendekati kawah dinilai lebih efektif ketimbang sekadar melarang kunjungan.