Putin Janji Bantu Akhiri Perang Timur Tengah dalam Pertemuan dengan Presiden Iran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 11:00:31 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertemu di sela KTT CIS di Avaza, Turkmenistan.

NUSAAKSARA.COM — Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan Moskow berkontribusi mengakhiri perang di Timur Tengah saat bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) di resor Avaza, Turkmenistan. Pertemuan dua pemimpin negara yang paling banyak dijatuhi sanksi di dunia itu berlangsung ketika konflik AS melawan Iran yang dimulai Februari lalu belum sepenuhnya berakhir meski kini mereda.

Dalam pertemuan tersebut, Putin menyampaikan komitmen Rusia untuk mendorong penyelesaian konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Ia menilai Teheran telah menunjukkan itikad nyata untuk menghentikan pertempuran sejak serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari.

"Kami siap melakukan segala upaya yang kami miliki untuk berkontribusi pada penyelesaian situasi ini," kata Putin, seperti dikutip dari laporan kantor berita yang meliput KTT CIS.

Upaya Iran yang Diakui Moskow

Putin secara khusus menyoroti langkah-langkah yang telah diambil Iran untuk meredakan ketegangan. Menurutnya, sejak serangan AS-Israel dimulai, Teheran telah melakukan upaya nyata untuk mengakhiri perang.

Pernyataan itu disampaikan di hadapan Pezeshkian dalam sesi pertemuan bilateral yang digelar usai kedua pemimpin tiba di Avaza, kawasan resor di tepi Laut Kaspia. KTT CIS sendiri resmi dibuka pada hari yang sama.

Hubungan Moskow-Teheran yang Semakin Erat

Putin juga mencatat perkembangan positif dalam hubungan bilateral Rusia-Iran. Kedua negara disebutnya semakin memperkuat kerja sama diplomatik dan militer sejak Rusia melancarkan operasi militer di Ukraina pada Februari 2022.

Ketergantungan timbal balik antara Moskow dan Teheran meningkat seiring tekanan sanksi yang dijatuhkan negara-negara Barat kepada keduanya. Rusia dan Iran tercatat sebagai dua negara dengan daftar sanksi terpanjang di dunia saat ini.

Tuduhan Barat dan Jalan Buntu Konflik

Ukraina dan negara-negara Barat menuduh Iran memasok drone Shahed serta rudal jarak pendek kepada Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina. Tuduhan itu dibantah Teheran, meski beberapa laporan intelijen Barat menyebut bukti keterlibatan terus menguat.

Sebaliknya, Rusia dituduh memasok data intelijen kepada Iran untuk membantu serangan terhadap target-target AS di Timur Tengah. Pertukaran tuduhan ini memperumit posisi kedua negara di panggung internasional.

Hingga kini, perang AS melawan Iran yang dimulai Februari lalu belum menemukan titik akhir. Meski intensitas pertempuran menurun, belum ada kesepakatan gencatan senjata resmi yang ditandatangani kedua pihak.

Posisi Rusia di Tengah Tekanan Sanksi

Langkah Putin menawarkan diri sebagai penengah mencerminkan upaya Moskow memperluas peran diplomatik di Timur Tengah. Rusia memiliki kepentingan strategis di kawasan itu, termasuk hubungan dagang dan militer dengan Iran yang terus berjalan meski sanksi Barat membatasi ruang gerak ekonominya.

Pertemuan di Avaza menjadi sinyal bahwa Moskow dan Teheran semakin solid menghadapi tekanan internasional. Keduanya memanfaatkan forum CIS sebagai panggung menunjukkan poros alternatif di luar tatanan yang didominasi Amerika Serikat dan Eropa.

Yang ditunggu sekarang adalah apakah janji Putin akan berbuah langkah konkret. Hingga berita ini ditulis, belum ada jadwal resmi perundingan lanjutan antara pihak-pihak yang bertikai maupun keterangan dari Washington soal tawaran mediasi Rusia.

Terkini