NUSAAKSARA.COM — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi mendorong partisipasi bermakna perempuan di berbagai sektor pembangunan ASEAN, bukan sekadar representasi. Dorongan itu disampaikan pada penutupan 4th ASEAN Women Leaders Summit di Filipina. Hasil diskusi KTT akan menjadi elemen penyusunan draft Joint Ministerial Statement on Women's Leadership for Inclusive Prosperity.
"Indonesia berkomitmen penuh untuk memajukan kepemimpinan perempuan melalui kebijakan yang kuat dan aksi nyata," ujar Menteri PPPA.
Partisipasi Bermakna, Bukan Sekadar Representasi
Arifatul menekankan keterlibatan perempuan tidak bisa berhenti pada angka keterwakilan. Menurut dia, partisipasi perlu diwujudkan dalam keterlibatan nyata yang mendorong kepemimpinan substansial di seluruh tingkatan.
"Bersama-sama kita dapat memastikan perempuan di kawasan ASEAN memiliki kesempatan yang setara untuk membentuk masa depan kita bersama," katanya.
Pemerintah menilai keterlibatan nyata perempuan memberi kontribusi positif dalam membentuk masa depan yang lebih baik, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat kawasan.
Isu Prioritas: Aksi Iklim hingga Perdamaian
Sejumlah bidang dinilai membutuhkan perhatian lebih besar. Arifatul menyoroti aksi iklim, STEM, serta perdamaian dan keamanan perempuan atau Women, Peace, and Security (WPS), termasuk sektor-sektor non-tradisional lainnya.
"Mengangkat isu-isu kepemimpinan perempuan sangat krusial dan membutuhkan perhatian lebih besar di kawasan," kata Menteri PPPA.
Melalui KTT tersebut, menurut dia, semakin disadari bahwa keterlibatan perempuan harus berupa partisipasi bermakna dan mendukung kepemimpinan substansial di seluruh tingkatan dan sektor.
Apresiasi untuk Filipina dan Langkah Lanjutan
Indonesia mengapresiasi kepemimpinan Filipina sebagai Ketua ASEAN dan penyelenggaraan 4th ASEAN Women Leaders Summit. Forum itu dinilai memperkuat ruang dialog dan kolaborasi terkait kepemimpinan perempuan di kawasan.
Momentum tersebut perlu dilanjutkan dengan langkah konkret dan kerja sama lintas negara. Tujuannya agar komitmen terhadap partisipasi bermakna perempuan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, praktik, dan peluang kepemimpinan yang lebih inklusif di berbagai sektor.
Hasil diskusi ASEAN Women Leaders Summit akan menjadi elemen dalam penyusunan draft Joint Ministerial Statement on Women's Leadership for Inclusive Prosperity. Dokumen itu akan ditindaklanjuti oleh pemerintah.