Ekuitas LKM Turun 2,34% per Agustus 2026, Aslindo Sebut Kredit Macet Jadi Biang Kerok

Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:00:31 WIB
Ekuitas industri LKM tercatat Rp 655,20 miliar per Agustus 2026, turun 2,34% secara tahunan.

NUSAAKSARA.COM — Nilai ekuitas industri Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tercatat Rp 655,20 miliar per Agustus 2026, turun 2,34% dibanding periode yang sama tahun lalu. Asosiasi LKM dan LKM Syariah Indonesia (Aslindo) menilai penurunan ini terjadi karena sejumlah LKM membukukan rugi akibat lonjakan kredit macet. Kondisi tersebut berpotensi menggerus kemampuan LKM menjaga operasionalnya.

Ketua Umum Aslindo Burhan menyebut penurunan ekuitas dipicu oleh sejumlah LKM yang mengalami rugi. Salah satu pemicu utamanya adalah tingginya biaya cadangan Penyisihan Penghapusan Piutang (PPP) akibat kredit macet yang meningkat tajam.

Kredit Macet dan Beban Operasional Jadi Pemicu

Burhan menjelaskan, kredit macet yang tinggi memaksa LKM membentuk cadangan PPP dalam jumlah besar. Biaya cadangan itu kemudian menggerus laba dan modal LKM.

"Hal itu bisa jadi karena pembentukan biaya cadangan Penyisihan Penghapusan Piutang (PPP) tinggi yang disebabkan tingkat kredit macet meningkat tajam," ungkap Burhan kepada Kontan, Sabtu (10/10/2026).

Selain kredit macet, beban operasional yang tinggi turut memperburuk kondisi keuangan LKM. Burhan menyebut biaya lain yang berlebih dan kurang diperhitungkan membuat beban semakin berat, sementara pertumbuhan kredit justru stagnan.

"Selain itu, biaya operasional tinggi yang dapat berakibat rugi, serta biaya lainnya yang berlebih dan kurang diperhitungkan sehingga beban terlalu tinggi. Ditambah, kredit yang tidak tumbuh sementara biaya makin tinggi," ujar Burhan.

Simpanan dan Aset Tumbuh, Pinjaman Justru Kontraksi

Di sisi lain, penghimpunan dana masyarakat di LKM masih menunjukkan pertumbuhan. OJK mencatat nilai simpanan LKM mencapai Rp 630 miliar per Agustus 2026, tumbuh 7,70% secara YoY.

Nilai aset industri LKM juga naik menjadi Rp 1,65 triliun, atau tumbuh 3,14% YoY. Namun, penyaluran pinjaman LKM justru terkontraksi 0,33% YoY menjadi Rp 1,05 triliun.

Artinya, dana yang masuk ke LKM lebih besar dibandingkan pinjaman yang disalurkan. Kondisi ini membuat LKM menghadapi tantangan ganda: beban biaya tetap tinggi sementara pendapatan bunga dari kredit tidak tumbuh.

Strategi Dongkrak Ekuitas Mulai Kuartal IV

Burhan tetap optimistis ekuitas industri LKM bisa kembali meningkat mulai kuartal IV-2026. Menurutnya, penguatan ekuitas menjadi hal penting untuk menjaga keberlangsungan operasional LKM.

Ada sejumlah langkah yang bisa ditempuh LKM untuk memperkuat ekuitas. Pertama, penambahan setoran modal dari pemegang saham. Kedua, penyisihan laba tahun berjalan untuk masuk cadangan umum, khusus bagi LKM yang berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT).

Burhan juga mengingatkan LKM agar mewaspadai faktor-faktor yang bisa menekan ekuitas ke depan. Kredit macet yang tinggi, beban operasional yang besar, serta kredit yang tidak tumbuh menjadi tiga hal yang perlu diantisipasi.

Bagi nasabah dan pelaku usaha mikro yang bergantung pada layanan LKM, kemampuan industri menjaga ekuitas menentukan kelangsungan pembiayaan ke depan. Ekuitas yang tergerus membatasi ruang LKM menyalurkan pinjaman baru, tepat saat kebutuhan modal usaha mikro masih berjalan.

Terkini