Wang Yi Desak Israel Hentikan Perluasan Permukiman Tepi Barat

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:00:32 WIB
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan desakan kepada Presiden Israel Isaac Herzog di sela KTT CICA ketujuh di Baku, Azerbaijan.

NUSAAKSARA.COM — Menteri Luar Negeri China Wang Yi menuntut Israel menghentikan pembentukan paksa permukiman di Tepi Barat yang diduduki. Desakan itu disampaikan langsung kepada Presiden Israel Isaac Herzog di sela-sela KTT CICA ketujuh di Baku, Azerbaijan. Wang juga menyerukan pembukaan kembali akses penuh ke Jalur Gaza.

Pertemuan Wang Yi dan Isaac Herzog berlangsung di tengah situasi regional yang oleh Beijing digambarkan sebagai kondisi tegang. Menurut Wang, perdamaian dan ketenangan di kawasan masih jauh dari tercapai.

Dalam pertemuan tersebut, Wang menyampaikan posisi resmi Beijing bahwa masalah Palestina merupakan "ketidakadilan sejarah terbesar abad ini". China menilai solusi dua negara adalah jalan yang tepat untuk menyelesaikannya.

Prioritas Mendesak: Akses Penuh ke Gaza

Wang menempatkan pembukaan akses penuh ke Jalur Gaza sebagai prioritas paling mendesak saat ini. Menurutnya, langkah itu diperlukan untuk mencegah dua juta penduduk Gaza menghadapi bencana kemanusiaan yang lebih parah.

Seruan tersebut disampaikan di hadapan Herzog, menjadikan pertemuan bilateral itu sebagai saluran langsung bagi Beijing untuk menekan Israel soal kondisi kemanusiaan di Gaza.

Tuntutan Hentikan dan Batalkan Permukiman Tepi Barat

Selain soal Gaza, Wang secara eksplisit meminta Israel menghentikan dan membatalkan perluasan permukiman di Tepi Barat. Ia menyebut praktik itu sebagai "pembentukan paksa" permukiman di wilayah yang diduduki.

Permintaan China mencakup dua hal sekaligus: penghentian pembangunan baru dan pembatalan perluasan yang sudah berjalan. Belum ada keterangan dari pihak Israel soal tanggapan atas tuntutan tersebut.

Posisi Beijing dan Tawaran Kerja Sama Bilateral

Di sela desakan soal Palestina, Wang menegaskan Beijing bersedia bekerja sama dengan Israel untuk memajukan hubungan bilateral. China, kata dia, ingin memperkuat dukungan publik terhadap hubungan kedua negara.

Tawaran itu menunjukkan China tidak memutus jalur diplomasi dengan Israel meski berbeda posisi soal Palestina. Beijing memilih menempuh jalur pertemuan langsung untuk menyampaikan keberatan sekaligus menjaga kanal kerja sama.

Pertemuan di Baku menjadi salah satu forum tempat China mengangkat isu Palestina di hadapan pejabat tinggi Israel. KTT CICA ketujuh sendiri menjadi latar pertemuan tersebut, dengan Azerbaijan sebagai tuan rumah.

Yang Ditunggu dari Pertemuan Baku

Belum ada indikasi apakah Israel akan merespons tuntutan China soal permukiman Tepi Barat dan akses Gaza. Posisi Beijing yang menyebut solusi dua negara sebagai jalan keluar menegaskan jarak pandang kedua negara soal masa depan Palestina.

Yang perlu dicermati adalah apakah desakan Wang di Baku berlanjut menjadi langkah diplomatik konkret, atau berhenti sebagai pernyataan posisi dalam forum multilateral.

Terkini