NUSAAKSARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Jumat (23/10/2026) di level 5.446,74, naik 58,84 poin atau 1,09 persen. Penguatan terjadi meski indeks sempat menyentuh titik terendah harian 5.366,29 di menit-menit awal pembukaan. Nilai transaksi sepanjang sesi pagi mencapai Rp 7,29 triliun.
Jakarta. IHSG membuka perdagangan di level 5.397,34 dan langsung bergerak naik. Tekanan jual sempat menyeret indeks ke 5.366,29 pada awal sesi, sebelum kembali menguat mendekati 5.450 menjelang pukul 10.00 WIB. Sepanjang sesi, indeks beberapa kali terkoreksi ke area 5.400 sebelum mencatat level tertinggi harian 5.452,77.
Volume transaksi tercatat 208,68 juta lot dengan nilai Rp 7.286,21 miliar, atau sekitar Rp 7,29 triliun. Angka itu menandakan aktivitas pasar yang tetap ramai meski indeks bergerak fluktuatif.
Sentimen Domestik Jadi Penopang
Pelaku pasar mencermati sejumlah perkembangan dalam negeri. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal pengelolaan sumber daya alam dan rencana perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masuk radar investor.
Dari sektor perbankan, pertumbuhan kredit disebut mencapai level tertinggi dalam satu dekade. Pasar juga menantikan perkiraan peningkatan penyaluran kredit baru pada akhir tahun, serta program pemerintah memperluas akses rekening bank.
Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data uang beredar September 2026. Rilis itu dinanti setelah pertumbuhannya melambat dua bulan berturut-turut.
BEI Ubah Aturan Hitung IHSG
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah aturan penghitungan IHSG. Mulai 2 November 2026, saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi masuk perhitungan indeks.
Mengutip keterbukaan informasi BEI, kebijakan itu bertujuan membuat indeks lebih mencerminkan dinamika pasar. Sebelumnya, hanya saham di Papan Akselerasi yang dikecualikan dari penghitungan IHSG.
Wall Street Ambruk, Inflasi Jepang Naik
Dari global, ambruknya Wall Street menjadi perhatian pasar hari ini. Sentimen lain datang dari Jepang: inflasi tahunan negeri itu naik menjadi 2,1 persen pada September 2026, dari 1,9 persen dalam dua bulan sebelumnya.
Angka itu menjadi yang tertinggi sejak Desember 2025 dan menandai kembali naiknya inflasi inti di atas target Bank of Japan (BOJ). Data Statistics Bureau of Japan menunjukkan inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan segar tetapi tetap mencakup energi mencapai 2,1 persen secara tahunan, naik dari 1,7 persen pada Agustus.
Realisasi tersebut merupakan yang tertinggi dalam sembilan bulan terakhir dan sesuai ekspektasi pasar.
Penutup: Bagi investor ritel, kombinasi penguatan indeks di sesi pagi dan deretan agenda domestik hari ini membuat arah IHSG di sesi II masih terbuka. Perubahan aturan penghitungan indeks per 2 November juga layak dicermati karena bisa menggeser bobot saham tertentu dalam IHSG.