Danantara Siapkan Rp 100 Triliun, BUMN Tekstil Bakal Caplok Sejumlah Pabrik

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 09:31:01 WIB
Danantara menyiapkan investasi sekitar Rp 100 triliun untuk membentuk BUMN tekstil yang akan mengambil alih sejumlah pabrik.

NUSAAKSARA.COM — Danantara menyiapkan investasi sekitar Rp 100 triliun untuk membentuk BUMN tekstil yang akan mengambil alih sejumlah pabrik dan menyinergikannya. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyebut Kementerian Perindustrian sudah berkoordinasi dengan Danantara soal rencana tersebut. Langkah ini diarahkan agar industri tekstil nasional punya daya saing lebih kuat sejak mulai beroperasi.

Rencana itu bukan hanya membangun kapasitas baru. Danantara akan mengambil beberapa pabrik tekstil sekaligus, lalu menyatukan keunggulan masing-masing pabrik ke dalam satu badan usaha milik negara.

Pabrik yang Diambil Akan Disinergikan

Sarmuji menilai setiap pabrik tekstil punya keunggulan tersendiri. Keunggulan itu dinilai bisa digabungkan sehingga menghasilkan kapasitas produksi dan daya saing yang lebih besar dibanding beroperasi sendiri-sendiri.

"Tentu kami berharap masing-masing pabrik ini kan sebenarnya punya keunggulan tersendiri. Keunggulan-keunggulan itu bisa digabungkan, bisa disinergikan menjadi keunggulan yang lebih besar lagi," ujar Sarmuji dalam wawancara eksklusif bersama detikcom, dikutip Jumat (23/10/2026).

Sinergi antarpabrik disebut sebagai strategi agar industri tekstil yang diinisiasi Danantara langsung punya keunggulan kompetitif sejak awal beroperasi. Dengan cara itu, BUMN tekstil tidak perlu membangun kemampuan produksi dari nol.

Dorong Realisasi Cepat untuk Tampung Pekerja Korban PHK

Soal waktu peluncuran, Sarmuji berharap realisasinya bisa dilakukan secepat mungkin. Salah satu pertimbangannya adalah kebutuhan menampung pekerja industri tekstil yang sebelumnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Mungkin secepatnya karena kebutuhan tenaga kerja yang di-layoff itu sebenarnya butuh naungan baru, dan sayang kalau mereka nggak segera dimanfaatkan," tutup Sarmuji.

Pernyataan itu memberi sinyal bahwa BUMN tekstil tidak hanya diproyeksikan sebagai kendaraan investasi, tetapi juga sebagai penampung tenaga kerja yang tersisa dari pabrik-pabrik terdampak. Serapan tenaga kerja menjadi salah satu tolok ukur yang akan dilihat publik sejak awal operasi.

Apa Artinya bagi Pelaku Industri Tekstil

Bagi pemilik pabrik tekstil yang masuk daftar pengambilalihan, skema ini membuka jalan keluar dari tekanan biaya operasi tanpa harus menutup usaha secara permanen. Namun detail pabrik mana yang diambil, mekanisme valuasi, dan struktur kepemilikan BUMN belum diungkap.

Pelaku usaha di sektor hilir perlu mencermati dampaknya terhadap lanskap pasokan. Konsolidasi beberapa pabrik di bawah satu BUMN berpotensi mengubah peta pemasok kain dan benang domestik, terutama bagi industri garmen yang selama ini bergantung pada pasokan lokal.

Investor di saham sektor tekstil dan ritel bahan baku juga layak menunggu kejelasan nilai transaksi per pabrik. Angka Rp 100 triliun yang disebut Sarmuji adalah besaran investasi secara keseluruhan, bukan nilai akuisisi satu perusahaan, sehingga dampak ke emiten tertentu belum bisa dihitung.

Yang jelas, pemerintah menempatkan sektor tekstil sebagai prioritas penyerapan investasi skala besar. Realisasi cepat atau lambat akan menentukan seberapa cepat pekerja yang terkena PHK kembali masuk ke lini produksi.

Terkini