Warga RI Ramai Turun Kelas Gaya Hidup, Ini yang Dihemat

Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:01:01 WIB
Fenomena downgrade lifestyle ramai dibahas warganet di media sosial sebagai upaya memangkas pengeluaran.

NUSAAKSARA.COM — Fenomena downgrade lifestyle alias menurunkan standar gaya hidup jadi perbincangan hangat di media sosial belakangan ini. Dari jual mobil sampai beralih ke kopi sachet, sejumlah warganet membagikan cara mereka memangkas pengeluaran demi menjaga kondisi keuangan.

Obrolan soal downgrade lifestyle belakangan ramai di media sosial, terutama di Threads. Warganet saling berbagi cerita soal kebiasaan konsumtif yang mulai mereka kurangi, mulai dari urusan transportasi sampai pilihan beras di dapur.

Fenomena ini bukan sekadar tren obrolan. Sejumlah ekonom menilai cerita-cerita tersebut jadi cermin tekanan daya beli yang makin terasa, khususnya di kalangan kelas menengah.

Apa Saja yang Sudah Dipangkas?

Cerita paling mencolok datang dari akun @wulan_as17. Ia mengaku menjual mobil Honda HR-V miliknya dan menggantinya dengan kendaraan low cost green car (LCGC) yang lebih terjangkau.

Satu unggahan lain bahkan menyebut perubahan gaya hidup yang cukup drastis. "In this economy, apa saja yang sudah kalian downgrade? Me: Dulu punya mobil Cortez dan rumah cluster, sekarang tinggal di rumah mertua dan kerja naik motor Shogun tua," tulis akun tersebut pada akhir September 2026.

Urusan dapur juga ikut jadi sasaran penghematan. Akun @fun_funny28 mengaku mengganti merek beras yang biasa dibeli dari harga Rp470 ribu menjadi Rp370 ribu untuk kemasan 20 kilogram.

Bagi pencinta kopi, akun @eveedesu mengaku dulu rutin membeli kopi dari gerai seperti Tomoro, Fore, dan Starbucks. Kini ia beralih ke kopi instan dalam kemasan sachet.

Ada pula @psychefeb yang berhenti mengikuti aktivitas pilates, yoga, dan padel. Ia sekarang lebih sering mencari produk atau layanan yang menawarkan promosi.

Tekanan Daya Beli Kelas Menengah

Ekonom sekaligus Direktur Next Policy Yusuf Wibisono menilai ramainya cerita downgrade lifestyle tak lepas dari tekanan daya beli, terutama pada kelompok kelas menengah.

"Dalam tahun-tahun terakhir, ketika ekonomi terus tumbuh tinggi, kita semakin sering melihat tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat, dari pusat perbelanjaan yang sepi bahkan tutup, mal ramai pengunjung namun kasir-nya sepi, bahkan pasar tradisional mengalami penurunan omset, hingga kelas menengah yang rela 'downgrade' gaya hidup demi menghemat pengeluaran," kata Yusuf kepada CNBC Indonesia pada Senin.

Yusuf memaparkan jumlah penduduk kelas menengah turun dari 60,8 juta orang atau 23% populasi pada 2018 menjadi 46,7 juta orang atau 16,6% pada 2025. Kelompok rentan miskin dan menuju kelas menengah justru naik dari 68,5% populasi pada 2018 menjadi 74,5% pada 2025.

Menurutnya, kelas menengah berperan penting menopang konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Ketika kelompok ini melemah, kemampuan masyarakat membeli barang dan jasa di luar kebutuhan dasar ikut tertekan.

Sinyal Awal, Bukan Bukti Ekonomi Memburuk

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengingatkan cerita warganet soal downgrade lifestyle tak serta-merta jadi bukti kondisi ekonomi seluruh masyarakat memburuk.

"Fenomena downgrade lifestyle layak dibaca sebagai sinyal mikro yang perlu diuji dengan data makro, bukan langsung dianggap bukti bahwa seluruh masyarakat memburuk," kata Syafruddin kepada CNBC Indonesia.

Ia mencatat perekonomian Indonesia masih tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026. Indeks Keyakinan Konsumen pada September 2026 juga masih di zona optimistis, yakni 118,1.

Meski begitu, tekanan di pasar tenaga kerja tetap terasa. Sebanyak 63.789 pekerja terkena PHK sepanjang Januari hingga September 2026, sementara pertumbuhan penjualan eceran September diprakirakan hanya 1,4% secara tahunan.

"Jadi, fenomena ini belum membuktikan kontraksi konsumsi nasional, tetapi menjadi early warning mengenai tekanan pada sebagian rumah tangga," jelasnya.

Kenapa Kelas Menengah Paling Rentan?

Syafruddin menilai kelas menengah cukup rentan terhadap tekanan biaya hidup karena punya banyak pengeluaran tetap. Mulai dari cicilan, biaya pendidikan, sampai kebutuhan perumahan.

Di sisi lain, kelompok ini sering tidak masuk sasaran bantuan sosial pemerintah. Tekanan rumah tangga pun bukan cuma soal harga barang naik, tapi juga pertumbuhan upah yang tak secepat kenaikan biaya hidup.

Buat kamu yang mungkin sedang menata ulang pengeluaran, cerita-cerita di atas setidaknya menunjukkan satu hal: menurunkan gaya hidup bukan lagi hal tabu. Dari pilihan transportasi sampai merek beras, semuanya kini dilihat ulang dengan kacamata yang lebih hemat.

Terkini