IHSG Anjlok ke Level Krisis 1998, Gen Z Khawatir PHK dan Gaji Tak Cukup

IHSG Anjlok ke Level Krisis 1998, Gen Z Khawatir PHK dan Gaji Tak Cukup
Ilustrasi pekerja muda di Jakarta di tengah tekanan ekonomi saat IHSG menyentuh level terendah sejak 1998.

NUSAAKSARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level terendah sejak krisis moneter 1998, memicu kekhawatiran baru di kalangan pekerja muda. Bagi Gen Z, gejolak pasar saham bukan sekadar angka di layar, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas pekerjaan dan daya beli. Sejumlah pekerja muda mengaku harus mengambil beberapa pekerjaan sekaligus agar kebutuhan bulanan tetap terbayar.

Kekhawatiran itu disampaikan langsung oleh sejumlah pekerja muda kepada CNBC Indonesia. Mereka menilai tekanan ekonomi saat ini terasa jauh lebih nyata dibandingkan fluktuasi indeks saham yang kerap jadi sorotan pasar modal.

Nur Aini, 27 tahun, mengaku sudah memiliki pekerjaan penuh waktu. Namun penghasilan dari satu pekerjaan saja tidak cukup menutup kebutuhan hidup, sehingga ia mengambil pekerjaan sampingan sebagai pekerja acara, pembuat konten, hingga pemandu wisata lepas.

"Jujur, sebagai Gen Z yang udah kerja, aku cukup khawatir sama kondisi ekonomi sekarang. Buatku, nyari kerja aja udah nggak gampang, dan ketika udah dapet kerja pun, belum tentu gajinya cukup buat memenuhi kebutuhan hidup," ujar Nur Aini kepada CNBC Indonesia, Senin (19/10/2026).

Waktu Istirahat Jadi Korban demi Tambahan Penghasilan

Upaya menambah pemasukan tidak datang gratis. Nur Aini mengaku waktu istirahat di akhir pekan habis dipakai untuk bekerja, sehingga ruang untuk mengembangkan diri ikut tergerus.

"Tapi jujur, capek juga. Weekend yang seharusnya bisa dipakai buat istirahat atau mengembangkan diri, akhirnya dipakai lagi buat kerja. Kadang kita bukan lagi mikirin gimana caranya punya kehidupan yang lebih baik, tapi gimana caranya supaya semua kebutuhan bulan ini bisa kebayar dulu," ungkapnya.

Menurut Nur Aini, anak muda tidak perlu memahami pergerakan IHSG untuk merasakan dampaknya. Kenaikan harga kebutuhan, terbatasnya lapangan kerja, dan penghasilan yang tidak sebanding dengan pengeluaran sudah cukup jadi indikator.

"Kita mungkin nggak semuanya paham soal pergerakan IHSG, tapi kita pasti merasakan kalau harga kebutuhan makin mahal, kesempatan kerja makin terbatas, dan penghasilan nggak sebanding sama pengeluaran," katanya.

Bertahan di Pekerjaan Kontrak Jadi Pilihan Paling Realistis

Dina Haimidah, 22 tahun, karyawan kontrak di perusahaan swasta, menyebut kehilangan pekerjaan sebagai ketakutan terbesar. Kekhawatiran itu muncul setelah ia menyaksikan teman-teman seusianya menganggur atau menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baginya, bertahan di posisi sekarang lebih masuk akal ketimbang mengejar kenaikan karier. "Mempertahankan pekerjaan menjadi satu-satunya hal yang paling mungkin dilakukan meskipun berlawanan dengan keinginan naik karir, mencari pengalaman baru dan alasan lainnya," jelasnya.

Ketidakpastian ekonomi juga memaksa Dina menunda rencana jangka panjang, termasuk membeli rumah dan menikah.

Makan dan Transportasi Telan Setengah UMR Jakarta

Beban biaya hidup di ibu kota jadi keluhan tersendiri. Ibrahim Susbach, 25 tahun, menyebut pengeluaran makan dan transportasi menyerap porsi terbesar dari penghasilannya setiap bulan.

"Biaya makan atau jajan di Jakarta itu mahal. Bahkan uang makan dan transportasi jika dihitung total sebulannya bisa sampai setengah gaji UMR Jakarta," ungkapnya.

Dengan pendapatan terbatas, Ibrahim terpaksa memakai sebagian tabungan untuk menutup kebutuhan harian. Kondisi itu mendorongnya mempertimbangkan bekerja di luar negeri, dengan harapan upah yang lebih tinggi dan aturan pengupahan yang lebih jelas.

"Mungkin dengan ke luar negeri, aturan di sana lebih jelas dan jujur dalam mengupah," ujarnya.

Harapan Pekerja Muda ke Pemerintah

Nur Aini menilai masyarakat berhak tahu bagaimana anggaran negara dikelola, termasuk manfaat yang langsung dirasakan warga. Ia menyoroti kontribusi pajak yang dibayar pekerja setiap bulan, baik lewat pemotongan penghasilan maupun pajak atas belanja kebutuhan sehari-hari.

"Gue sebagai warga negara juga bayar pajak setiap bulan. Bahkan, ketika kita belanja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada pajak yang kita bayarkan," ujarnya.

Dari sisi lain, Ibrahim berharap kebijakan transportasi umum gratis bagi kelompok pekerja tertentu diperluas ke wilayah lain. Menurutnya, kebijakan itu bisa memangkas pengeluaran pekerja yang setiap hari mengeluarkan biaya transportasi.

Dina meminta pemerintah lebih memperhatikan ancaman PHK dan mahalnya kebutuhan pokok. "Mendengarkan rakyat yang mengeluh soal ekonomi bukan dengan cara memberikan makan bergizi gratis saja, tapi juga dengan member..." ujarnya, dalam pernyataan yang dikutip hingga terpotong.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index