Film Between Us Tayang Perdana di Tokyo Film Festival, Angkat Trauma Dua Keluarga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:00:31 WIB
Film Between Us karya Shingo Matsumura tayang perdana di seksi kompetisi Nippon Cinema Now, Tokyo Film Festival.

NUSAAKSARA.COM — Film Between Us garapan sutradara Shingo Matsumura tayang perdana di seksi kompetisi Nippon Cinema Now, Tokyo Film Festival. Drama Jepang ini mengikuti dua keluarga yang terpisah setelah insiden camping tragis enam tahun silam, dengan Ririka Kawashima sebagai Makoto. Kisahnya bergerak lewat pementasan klub teater sekolah menengah yang mempertemukan kembali anak-anak dari kedua keluarga.

Empat aktris muda menjadi tulang punggung film ini. Ririka Kawashima memerankan Makoto, remaja yang masih terguncang oleh peristiwa tersebut. Ia beradu akting dengan Anna Kurasawa, Akiko Kikuchi, dan Asami Usuda dalam kisah tentang para ibu dan anak perempuan yang harus memikul beban pemulihan serta rekonsiliasi.

Premis: Dua Keluarga, Satu Luka Lama

Prolog film memperlihatkan Kasumi berusia 10 tahun berangkat camping bersama orang tuanya di pedesaan. Rencananya, keluarga Makoto ikut bergabung. Namun Makoto sedang sakit dan ayahnya mendadak dipanggil kerja, sehingga hanya Kenji, adik Makoto yang berusia delapan tahun, yang ikut rombongan.

Setibanya di lokasi, Kenji berlarian riang dengan jaring kupu-kupu. Ia sempat diingatkan agar tidak berkeliaran terlalu jauh. Enam tahun kemudian, lanskap kedua rumah tangga berubah drastis.

Makoto kini duduk di bangku sekolah menengah dan tinggal bersama ibunya, Emi, yang kondisi emosinya hancur. Ayahnya pindah rumah, kehilangan pekerjaan kantor, dan kini menghidupi diri sebagai kurir. Emi nyaris tak merespons saat rekan kerjanya di perpustakaan menanyakan kabar "si kecil".

Keluarga Kasumi tampak lebih stabil. Mereka masih utuh dan kini punya putri berusia lima tahun, Chika. Namun retakan di balik permukaan itu cepat terlihat. Fumiko, sang ibu, bercerita bahwa anak bungsunya mengeluh tak pernah melihat ayahnya tersenyum.

Kritik: Kuat di Awal, Goyah di Tengah

Matsumura mampu melukiskan duka yang membusuk tanpa perlu penjelasan berlebihan di sekuens awal. Sayangnya, sebuah laporan radio di mobil—yang tak terdengar oleh karakter mana pun dan hanya ditujukan untuk penonton—menegaskan bahwa Kenji hilang dalam perjalanan camping bersama keluarga sahabat enam tahun lalu, dan polisi belum menyingkirkan kemungkinan tindak pidana.

Keputusan itu menghapus rasa misteri yang sudah terbangun. Film juga sempat menjanjikan elemen prosedural yang ternyata tak pernah terwujud. Perhatian kemudian beralih ke Makoto dan Kasumi, yang tanpa diduga masuk sekolah menengah yang sama dan menjadi satu-satunya anggota klub teater sekolah yang nyaris bubar.

Di sisi lain, Fumiko dan Emi bertemu di perpustakaan. Emi mengetahui bahwa keluarga yang setidaknya bertanggung jawab secara tidak langsung atas kematian anaknya kini punya anak kecil yang menggemaskan. Informasi itu nyaris membuat Emi kehilangan kendali emosi.

Para Remaja yang Memilih Berdamai

Kedua ayah digambarkan tak berdaya menghadapi situasi, sementara para ibu enggan membicarakannya. Beban itu akhirnya jatuh ke generasi muda. Makoto dan Kasumi memutuskan memproduksi pertunjukan teater yang mendramatisasi keputusan mereka untuk berdamai.

Keduanya bersandar pada sisa kasih sayang yang masih mereka simpan satu sama lain. Berbeda dengan orang tua mereka, kedua remaja ini ingin memproses permusuhan yang muncul, dengan harapan bisa melepaskan beban dan melangkah maju.

Menjelang pertunjukan puncak, Between Us bergerak ragu-ragu. Film ini sesekali menjanjikan eksperimen metatekstual atau pengungkapan emosional yang katarsis, tapi hanya sedikit yang benar-benar terwujud. Kawashima tampil paling menonjol lewat tokoh Makoto yang masih syok.

Perbandingan dan Prospek Distribusi

Dalam banyak hal, film Matsumura mengingatkan pada drama Korea Birthday (2019) arahan Lee Jong-un. Film itu mengamati dampak melumpuhkan dari tragedi feri Sewol 2014 yang menewaskan lebih dari 300 orang, tanpa pernah menampilkan ulang peristiwanya.

Keberanian Matsumura membiarkan pertanyaan penting tak terjawab patut diapresiasi. Hanya saja, ia bisa melangkah lebih jauh. Pandangannya bahwa para remaja lebih siap memaafkan, pulih, dan berdamai dibanding orang tua mereka akan lebih kuat bila diberi ruang konflik atau penolakan dari generasi tua.

Terlepas dari kekurangan itu, Between Us tetap tersusun rapi dan menyimpan secercah harapan. Prospek komersialnya kemungkinan terbatas pada ajang khusus yang fokus membina suara-suara baru yang masih mengasah kemampuan.

Terkini