Gempa Flores Rusak 398 Sekolah, Siswa di Manggarai Belajar di Tenda Darurat

Gempa Flores Rusak 398 Sekolah, Siswa di Manggarai Belajar di Tenda Darurat
Siswa SMPN 1 Reok mengikuti kegiatan belajar di tenda darurat pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores.

NUSAAKSARA.COM — Sebanyak 398 fasilitas pendidikan rusak akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026. Di Kabupaten Manggarai, siswa SMPN 1 Reok dan MIN 1 terpaksa belajar di tenda darurat sementara pendampingan psikososial berjalan untuk memulihkan trauma anak-anak dan perempuan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Wensislaus Sedan menyebut skala kerusakan yang luas menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Kendala lain yang dihadapi adalah akurasi data dan koordinasi lintas sektor.

Selain fasilitas pendidikan, gempa merusak 186 fasilitas kesehatan, 108 fasilitas ibadah, 55 fasilitas pemerintahan, serta 28 fasilitas adat dan umum. Korban jiwa tercatat 67 orang.

Ratusan Ruang Kelas Darurat Dibangun dengan Anggaran Rp 2,2 Miliar

Pemkab Manggarai telah membangun 220 Ruang Kelas Darurat (RKD) di 142 sekolah. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 2,2 miliar, atau rata-rata Rp 10 juta per unit RKD.

Untuk rumah warga, data kerusakan mencatat 2.220 unit rusak berat, 6.129 unit rusak sedang, dan 7.973 unit rusak ringan. Dari total 34.622 rumah terdampak, sebanyak 5.235 unit sudah masuk SK Bupati dan sedang proses uji publik.

"Kami berharap kolaborasi ini terus berjalan agar pemulihan dapat berjalan lebih cepat," ujar Wensislaus.

Pos SAPA Pulihkan Trauma 448 Siswa SMPN 1 Reok

Organisasi kemanusiaan Plan Indonesia mendistribusikan tenda, alat tulis, dan sarana MCK ke sejumlah sekolah terdampak. Plan Indonesia juga membangun Pos Sahabat Anak dan Perempuan (Pos SAPA) yang rutin menggelar pendampingan psikososial.

Kepala SMPN 1 Reok Maria Oliva Nduang mengatakan kondisi emosional siswa telah membaik meski mereka belum merasa benar-benar aman karena masih belajar di tenda darurat.

"Total ada 448 siswa. Secara umum, kondisi psikologis mereka sudah pulih, berkat pendampingan dari Plan International," kata Maria.

Guru SMPN 1 Reok Siprianus Medi menyampaikan terima kasih atas bantuan yang berlangsung sejak bencana terjadi. Plan Indonesia juga akan membangun sumur bor untuk kebutuhan air bersih sekolah dan warga sekitar.

830 Jiwa di Manggarai Timur Hanya Dilayani 15 MCK

Masalah sanitasi muncul di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur. Sekitar 830 jiwa atau 243 keluarga tinggal di lokasi pengungsian dengan hanya 15 unit MCK tersedia.

Kondisi itu membuat warga dilaporkan mengalami diare dan sebagian terpaksa membuang air besar di tempat terbuka. Plan Indonesia menyalurkan toilet portabel dan mendistribusikan air bersih ke seluruh bak penampungan.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti menjelaskan perempuan dan anak merupakan kelompok paling rentan pascagempa. Program yang dijalankan mencakup edukasi sanitasi berbasis masyarakat, edukasi perlindungan dari kekerasan, hingga pendampingan psikososial.

"Kami memiliki program khusus bagi anak-anak dan perempuan, termasuk pendampingan psikososial serta bantuan alat kesehatan. Tujuannya agar anak-anak tetap bisa belajar dengan tenang dan nyaman meskipun masih di tenda darurat," jelas Dini.

Guru Dilatih Jadi Pendamping Kesiapsiagaan Bencana

Plan Indonesia menjalankan tiga program utama dalam penanganan pascagempa Flores: pendidikan dalam situasi darurat, perlindungan anak dalam situasi darurat, serta bantuan air bersih, paket kebersihan, dan dukungan hunian sementara.

Puluhan guru juga dilatih menjadi pendamping kesiapsiagaan bencana agar dapat membekali siswa dengan pengetahuan melindungi diri saat terjadi bencana.

"Kami ingin kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari kebiasaan anak-anak, sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi," tegas Dini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index