Mantan Sekjen NATO: Eropa Harus Serius Hadapi Sikap AS Soal Greenland

Rabu, 28 Januari 2026 | 18:00:00 WIB
Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

Mantan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg meragukan komitmen Amerika Serikat (AS) untuk tetap berada di dalam aliansi pertahanan tersebut. Ia menilai negara-negara Eropa harus bersikap lebih serius menyikapi langkah Washington yang kembali mengangkat isu pengambilalihan Greenland.

Dalam wawancara dengan media Jerman, Der Spiegel, Stoltenberg menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali menegaskan ambisinya terhadap pulau Arktik kaya mineral itu. Trump bahkan disebut tidak menutup kemungkinan menarik AS dari NATO jika aliansi tersebut menentang langkah Washington.

Dikutip dari Russia Today, Selasa (20/1/2026), sikap Trump tersebut memicu ketegangan baru antara AS dan sekutu-sekutu Eropanya, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang masa depan NATO di tengah dinamika geopolitik global.

Stoltenberg menyambut positif respons negara-negara Eropa yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Denmark. Pernyataan bersama dari negara-negara Nordik, Jerman, serta sejumlah negara Eropa lainnya dinilai sebagai sinyal kuat bahwa kawasan tersebut tidak tinggal diam.

Meski demikian, Stoltenberg menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara mempertahankan prinsip kedaulatan dan menjaga hubungan dengan sekutu utama seperti AS. Ia kembali menekankan bahwa Greenland merupakan bagian dari Kerajaan Denmark, dan kedaulatan negara anggota NATO harus dihormati.

“Kita harus terus terlibat dengan Amerika Serikat. Namun keterlibatan itu juga berarti berani bersuara ketika kita tidak sependapat,” ujar Stoltenberg.

Sebelumnya, Denmark telah berulang kali menegaskan bahwa Greenland tidak untuk diperjualbelikan dan masa depan wilayah tersebut harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Pada 2008, mayoritas warga Greenland memilih mempertahankan status pemerintahan sendiri dalam Kerajaan Denmark, termasuk hak mengelola sumber daya alam seperti pertambangan.

Di sisi lain, Trump beralasan bahwa hanya di bawah kendali AS Greenland dapat terlindungi dari pengaruh China dan Rusia. Klaim tersebut langsung dibantah oleh kedua negara, yang menilai pernyataan Trump tidak berdasar dan berlebihan.

Ketegangan semakin meningkat setelah Trump melontarkan ancaman akan mengenakan tarif terhadap mitra dagang AS yang menolak mendukung rencana Washington terkait Greenland.

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen, usai pertemuan di Washington pekan lalu, mengakui adanya “ketidaksepakatan mendasar” antara kedua negara. Meski demikian, ia berharap pembentukan kelompok kerja bilateral dapat membuka jalan dialog yang lebih konstruktif.

Prancis juga turut menyoroti langkah Trump. Paris memperingatkan bahwa setiap upaya untuk merebut Greenland tidak hanya dianggap melampaui batas, tetapi juga berpotensi merusak hubungan ekonomi antara AS dan Uni Eropa (UE).

Sebagai respons atas meningkatnya tensi, Denmark bekerja sama dengan Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, dan Inggris mengirimkan kontingen terbatas ke Greenland. Langkah ini dilakukan menjelang latihan militer Arctic Endurance Uni Eropa yang digelar akhir pekan ini. (Fitri Wulandari/CHY)

Tags

Terkini