Jam Kiamat Tersisa 85 Detik, Dunia Dinilai Lebih Semakin Dekat ke Ambang Bencana

Jumat, 30 Januari 2026 | 20:00:00 WIB
Foto: Ilustrasi Generate AI

NUSA AKSARA - Dunia dinilai berada pada titik paling berbahaya dalam sejarah modern. Jam Kiamat (Doomsday Clock) kini menunjukkan 85 detik menuju tengah malam, posisi terdekat yang pernah dicapai sejak jam simbolik itu diperkenalkan pada era Perang Dingin.

Penyesuaian waktu tersebut diumumkan Bulletin of the Atomic Scientists pada Selasa (27/1/2026), dikutip dari Euronews, menyusul meningkatnya ancaman global mulai dari senjata nuklir, krisis iklim, hingga disinformasi yang kian merusak kepercayaan dunia.

Dalam pernyataan resminya—yang disusun setelah berkonsultasi dengan panel beranggotakan delapan peraih Nobel—Bulletin menilai bahwa kekuatan-kekuatan besar dunia semakin bergerak agresif, konfrontatif, dan nasionalistik. Kondisi ini memperlemah kerja sama internasional yang selama ini menjadi penyangga utama stabilitas global.

“Kesepakatan global yang dibangun dengan susah payah kini mulai runtuh. Dunia memasuki era perebutan kekuasaan ‘pemenang mengambil semuanya’ yang berisiko memicu perang nuklir, memperparah krisis iklim, hingga penyalahgunaan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan dan bioteknologi,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Salah satu sorotan utama adalah berakhirnya perjanjian pengurangan senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia yang akan habis masa berlakunya dalam waktu dekat. Tanpa perjanjian itu, dunia dikhawatirkan memasuki babak baru perlombaan senjata nuklir tanpa kendali.

“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, tidak ada mekanisme yang benar-benar mampu menahan eskalasi senjata nuklir,” ujar Daniel Holz, fisikawan Universitas Chicago sekaligus Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin, dalam konferensi pers daring.

Kekhawatiran juga meningkat seiring wacana Amerika Serikat untuk melanjutkan uji coba nuklir serta mendorong sistem pertahanan rudal baru yang disebut Yellow Dome, yang dinilai berpotensi memicu militerisasi ruang angkasa.

Di sisi lain, krisis iklim tak kalah mengkhawatirkan. Dewan Jam Kiamat mencatat emisi karbon dioksida (CO2) global kembali mencetak rekor, di tengah perubahan drastis kebijakan iklim AS dan mundurnya sejumlah negara dari komitmen pengendalian pemanasan global.

Ancaman lain yang disorot adalah krisis kepercayaan global akibat disinformasi masif. Maria Ressa, jurnalis investigasi asal Filipina dan peraih Nobel Perdamaian, menyebut dunia saat ini berada dalam krisis informasi paling parah sepanjang sejarah.

“Kita hidup dalam krisis informasi ekstrem. Teknologi eksploitatif menyebarkan kebohongan jauh lebih cepat daripada kebenaran dan memanfaatkan perpecahan kita,” kata Ressa.

Ia mencontohkan ancaman Amerika Serikat untuk merebut Greenland sebagai kegagalan dalam menjaga integritas informasi global. Menurutnya, pihak yang menguasai platform digital kini semakin menyatu dengan kekuatan politik dan militer.

“Mereka yang mengendalikan apa yang dipercaya miliaran orang kini berada di barisan yang sama dengan mereka yang mengendalikan pemerintahan dan senjata,” ujarnya. (CHY/CTA).

Tags

Terkini