NUSA AKSARA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak sepenuhnya menutup kemungkinan untuk melakukan perundingan dengan Iran, meski ketegangan antara kedua negara masih tinggi setelah serangkaian serangan militer di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (11/3/2026), Trump mengatakan peluang dialog tetap ada, meskipun ia menekankan bahwa hal itu sangat bergantung pada syarat yang diajukan dalam proses perundingan.
“Itu mungkin saja, tergantung pada syaratnya. Mungkin saja, hanya mungkin. Anda tahu, sebenarnya kita tidak perlu lagi berbicara jika benar-benar dipikirkan, tetapi itu mungkin,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi geopolitik yang memanas setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyasar berbagai lokasi strategis, termasuk di ibu kota Teheran, dan menyebabkan kerusakan serta korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Washington dan Tel Aviv awalnya menyebut operasi tersebut sebagai langkah “preemptif” untuk menghadapi ancaman yang mereka klaim berasal dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kedua negara juga menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kepemimpinan di Iran.
Dalam konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama operasi militer. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Sementara itu, Trump juga menyampaikan pandangannya terkait kepemimpinan baru di Iran. Ia mengaku tidak yakin Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei yang disebut telah diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, dapat memimpin negara tersebut dalam kondisi damai.
Sehari sebelumnya, Trump juga menyatakan “kecewa” atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Reaksi internasional pun bermunculan. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Ali Khamenei sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional secara sinis. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel, serta menyerukan deeskalasi segera dan penghentian permusuhan.
(CHY/CTA)