NUSA AKSARA – Departemen Pertahanan Amerika Serikat mulai menjajaki kerja sama dengan industri otomotif untuk meningkatkan kapasitas produksi militer.
Langkah ini dilakukan di tengah kebutuhan mendesak untuk mengisi kembali persediaan senjata yang menurun akibat konflik yang sedang berlangsung.
Dilansir dari Russia Today pada Jumat (17/4/2026), Pentagon telah mendekati General Motors dan Ford Motor Company.
Pembahasan Produksi dan Kapasitas Industri
Diskusi antara pemerintah dan pelaku industri melibatkan pejabat senior dari berbagai pihak. Pembicaraan difokuskan pada kemampuan pabrik sipil untuk dialihkan menjadi fasilitas produksi militer.
Pertanyaan utama yang dibahas adalah "apakah dan seberapa cepat" konversi tersebut dapat dilakukan. Hal ini mencakup produksi amunisi dan perlengkapan militer lainnya.
General Motors sebelumnya telah memiliki keterlibatan melalui unit GM Defense yang memasok kendaraan militer. Sementara itu, Ford belum memiliki kontrak militer besar dalam skala serupa.
Selain kedua perusahaan tersebut, GE Aerospace dan Oshkosh Corporation juga disebut ikut dalam pembahasan awal.
Dorongan ke Kondisi Industri Perang
Sejumlah pejabat menyebut langkah ini sebagai upaya menempatkan industri dalam "kondisi perang". Istilah tersebut merujuk pada mobilisasi industri pada era Perang Dunia II.
Pada masa itu, produsen otomotif di Detroit menghentikan produksi kendaraan sipil dan beralih memproduksi peralatan militer. Produksi tersebut mencakup pesawat pembom, mesin pesawat, dan kendaraan logistik.
Pendekatan serupa kini kembali dipertimbangkan untuk menghadapi tekanan kebutuhan logistik militer.
Tekanan dari Konflik yang Berlangsung
Persediaan senjata Amerika Serikat dilaporkan mengalami tekanan signifikan akibat konflik di berbagai wilayah. Dalam perang melawan Iran, militer AS disebut telah menggunakan ratusan rudal dalam waktu singkat.
Lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk missile diluncurkan dalam empat minggu pertama operasi militer.
Tingkat penggunaan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pejabat Pentagon terkait keberlanjutan stok.
Analisis menunjukkan bahwa sebelum operasi tersebut, Angkatan Laut AS memiliki sekitar 4.000 hingga 4.500 rudal Tomahawk. Namun, jumlah pasti tidak diungkap secara resmi oleh pemerintah.
Anggaran dan Biaya Perang
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, mengajukan anggaran militer yang meningkat signifikan.
Proposal untuk tahun fiskal 2027 mencapai sekitar 1,5 triliun dolar AS, meningkat dari hampir 1 triliun dolar pada tahun sebelumnya.
Anggaran tersebut mencakup pendanaan dasar pertahanan serta alokasi tambahan untuk operasi militer yang sedang berlangsung.
Mantan anggota Kongres AS, Marjorie Taylor Greene, menyatakan bahwa konflik di Iran menelan biaya sekitar 2 miliar dolar AS per hari.
Sementara itu, pelacak independen WarSpend memperkirakan total pengeluaran AS hampir mencapai 48 miliar dolar sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Perkembangan ini menunjukkan tekanan besar terhadap kapasitas industri dan anggaran militer AS, seiring meningkatnya kebutuhan operasional dalam konflik yang terus berlangsung.
(Fitri Wulandari/CHY)