Prabowo Optimistis Indonesia Hadapi Krisis Energi Global

Kamis, 09 April 2026 | 12:00:00 WIB
FOTO: Dokumentasi BPMI Setpres

NUSA AKSARA – Presiden Prabowo Subianto menyatakan optimisme pemerintah dalam menghadapi krisis energi global. Hal ini disampaikan dalam rapat kerja pemerintah di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (08/04/2026).

Informasi tersebut dikutip dari taklimat Presiden yang menegaskan bahwa Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global. Pemerintah dinilai berhasil mengendalikan arah pembangunan.

“Kita dapat mengendalikan arah perkembangan, arah bernegara bangsa kita. Kita dapat navigasi melalui hal-hal yang berbahaya, tapi satu setengah tahun ini alhamdulillah kita telah membuktikan bahwa pemerintah kita efektif, pemerintah kita andal, dan pemerintah kita dapat melaksanakan tugas bernegara dengan benar dan baik,” ujar Presiden.

Antisipasi Krisis Global Tiga Sektor

Presiden mengingatkan bahwa dunia menghadapi potensi krisis di tiga sektor utama, yakni pangan, energi, dan air. Hal ini telah lama diproyeksikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Berapa tahun yang lalu PBB sudah meramalkan bahwa krisis dunia, krisis yang akan melanda seluruh dunia adalah tiga hal yaitu krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Food, energy, and water ini sudah dicanangkan oleh PBB,” tuturnya.

Dalam siaran pers yang dikutip, pemerintah menjadikan proyeksi tersebut sebagai dasar penguatan kebijakan nasional.

Kondisi Nasional Dinilai Tetap Aman

Presiden juga menyoroti dampak konflik global terhadap harga energi. Namun, Indonesia dinilai berada dalam kondisi relatif aman dibandingkan banyak negara lain.

“Saya telah mempelajari data-data dan angka-angka, dan dalam kesempatan hari ini saya dapat laporan dari menteri-menteri saya, ternyata kondisi kita cukup aman. Ada tantangan, ada kesulitan, tapi kita mampu menghadapi dan mampu mengatasinya,” tegasnya.

Pemerintah menilai stabilitas ini menjadi hasil dari kebijakan yang telah dijalankan.

Fokus Strategi 12 Bulan ke Depan

Dalam jangka pendek, pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas energi, khususnya dalam satu tahun ke depan. Periode ini dinilai sebagai fase krusial.

“Sebagian langkah-langkah untuk kita kendalikan konsumsi daripada bahan bakar untuk jangka pendek ini. Jangka pendek yang saya anggap kritis adalah satu tahun ke depan ini, 12 bulan ke depan. Sesudah 12 bulan, kita akan menjadi sangat kuat. Intinya sekarang kita siap, kita kuat menghadapi satu tahun ini,” ungkap Presiden.

Subsidi Energi untuk Masyarakat Rentan

Presiden memastikan kebijakan subsidi energi tetap diarahkan untuk melindungi masyarakat kecil. Pemerintah menargetkan subsidi tepat sasaran.

“Untuk BBM yang bersubsidi, kita akan pertahankan untuk rakyat kecil dan rakyat miskin. Kita akan pertahankan untuk 80 persen rakyat kita. Tapi pada saatnya, orang-orang kuat, orang-orang kaya, kalau mau pakai bensin yang mahal, dia harus bayar harga pasar,” ujar Presiden.

Dalam keterangan yang dikutip, kebijakan ini bertujuan menjaga keadilan dalam distribusi energi.

Dorong Kemandirian Energi Nasional

Pemerintah juga menekankan percepatan transformasi menuju kemandirian energi berbasis sumber daya domestik dan energi terbarukan. Krisis global dinilai menjadi momentum percepatan reformasi.

“Krisis, kesulitan, tantangan, hambatan, rintangan adalah peluang. Membuat kita harus bekerja lebih baik, harus bekerja lebih efisien, tidak boleh boros, tidak boleh ada kebocoran, tidak boleh ada korupsi,” tegas Presiden.

Dikutip dari keterangan resmi, langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan memastikan kebijakan berdampak langsung bagi masyarakat.

(CHY)

Tags

Terkini