NUSA AKSARA – Delegasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dipimpin Wakil Gubernur Rano Karno meninjau fasilitas pengolahan sampah CopenHill di Kopenhagen, Denmark, Minggu (17/5/2026) waktu setempat.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Jakarta mempelajari sistem pengelolaan sampah modern yang terintegrasi, ramah lingkungan, dan berbasis teknologi waste-to-energy.
Di fasilitas tersebut, sampah yang telah dipilah diolah melalui pembakaran bersuhu tinggi hingga 1.000 derajat Celsius untuk menghasilkan energi listrik dan panas bagi masyarakat.
Sampah Diubah Jadi Energi untuk Ribuan Rumah
Manajemen CopenHill menjelaskan energi dari proses pengolahan sampah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan pemanas sekitar 100.000 hingga 150.000 rumah tangga di Kota Kopenhagen.
Flemming G. Nielsen dari Amager Resource Center mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah di Denmark tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga disiplin masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Kami menerapkan pemilahan sampah sejak rumah tangga dengan 10 kategori,” ujarnya.
Menurutnya, sampah makanan diproses di fasilitas berbeda, sementara sampah rumah tangga dipilah berdasarkan jenis seperti kaca, plastik, dan logam sebelum diolah menjadi energi.
CopenHill Olah Ratusan Ribu Ton Sampah per Tahun
Fasilitas yang mulai beroperasi pada 2017 itu mampu mengolah sekitar 440.000 hingga 610.000 ton sampah setiap tahun.
Dari proses tersebut, CopenHill menghasilkan sekitar 283 GWh listrik dan 1.383 GWh energi panas.
Selain itu, limbah makanan yang diolah secara terpisah juga dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas bagi kebutuhan masyarakat.
Rano: Fasilitas Sampah Bisa Jadi Ruang Publik Modern
Menurut Rano Karno, pengalaman di Kopenhagen menunjukkan fasilitas pengelolaan sampah dapat dirancang modern, efisien, sekaligus ramah bagi masyarakat.
“Teknologinya sangat maju. Tidak hanya mengolah sampah menjadi energi, kawasan ini juga dirancang terbuka dengan area edukasi, kafe, hingga arena ski rumput,” kata Rano.
Ia menilai konsep tersebut mengubah cara pandang masyarakat terhadap fasilitas pengolahan sampah yang selama ini identik dengan kawasan tertutup dan kumuh.
Jakarta Ingin Percepat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Rano mengatakan pengalaman Kopenhagen menjadi inspirasi penting bagi Jakarta yang tengah berupaya mempercepat pengurangan dan pengolahan sampah perkotaan secara berkelanjutan.
Namun, menurutnya, teknologi saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Pemilahan sampah di hulu adalah kunci. Teknologi bisa dibangun, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan partisipasi warga,” ujarnya.
Pengelolaan Sampah Jadi Tantangan Kota Besar
Di tengah pertumbuhan kota dan meningkatnya volume sampah perkotaan, Jakarta mulai mencari berbagai model pengelolaan sampah modern dari kota-kota dunia.
Pendekatan waste-to-energy dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan energi alternatif yang lebih berkelanjutan.
Bagi Jakarta, tantangan terbesar bukan hanya membangun teknologi, tetapi juga membentuk budaya baru masyarakat dalam mengelola sampah secara lebih disiplin dan berkelanjutan.
(CHY)