NUSAAKSARA.COM — Rumah Sakit Rehabilitasi Medis dan Bedah Khusus Al-Wafa di Jalur Gaza mengumumkan penghentian sementara sejumlah layanan medis pada Senin, menyusul krisis bahan bakar dan pasokan operasional yang kian parah. Fasilitas non-pemerintah itu menjadi rumah sakit kedua di Gaza yang mengurangi layanan dalam dua hari terakhir, setelah Rumah Sakit Khusus Kuwait melakukan hal serupa sehari sebelumnya. Kekurangan solar untuk generator listrik dan sulitnya memperoleh suku cadang kendaraan disebut sebagai pemicu utama keputusan tersebut.
Manajemen Rumah Sakit Al-Wafa menyatakan layanan yang ditangguhkan sementara mencakup klinik rawat jalan, operasi bedah, terapi fisik dan okupasi rawat jalan, terapi wicara, serta perawatan gangguan menelan. Keputusan itu diambil untuk menghemat sumber daya yang tersisa agar pasien rawat inap dan layanan medis kritis tetap bisa berjalan.
Fasilitas tersebut menghadapi kekurangan parah solar dan bahan bakar lain yang dibutuhkan untuk mengoperasikan generator listrik dan kendaraan. Kesulitan juga muncul dalam memperoleh oli, ban, suku cadang, dan pasokan pemeliharaan agar peralatan serta layanan penting tetap berfungsi.
Generator listrik menjadi tulang punggung rumah sakit di Gaza karena wilayah tersebut telah mengalami pemadaman listrik total selama tiga tahun terakhir. Tanpa pasokan bahan bakar yang memadai, departemen kritis dan peralatan medis berisiko berhenti beroperasi.
Rumah Sakit Kedua yang Kurangi Layanan dalam Dua Hari
Rumah Sakit Khusus Kuwait, sebuah lembaga non-pemerintah, lebih dulu mengumumkan pengurangan layanan pada Minggu. Dua pengumuman dalam rentang dua hari ini menandai eskalasi krisis operasional fasilitas kesehatan di Jalur Gaza.
Al-Wafa melayani ribuan warga Palestina setiap bulan, termasuk korban luka dan penyandang disabilitas yang bergantung pada layanan perawatan serta rehabilitasi berkelanjutan. Penghentian layanan rawat jalan berdampak langsung pada pasien yang memerlukan terapi rutin.
Manajemen rumah sakit memperingatkan bahwa tanpa intervensi mendesak, pengurangan layanan lebih lanjut dapat terjadi. Kondisi itu disebut akan mengancam kemampuan fasilitas tersebut menyediakan layanan medis dan rehabilitasi bagi pasien yang tersisa.
WHO Hentikan Pasokan Solar ke 20 Lebih Fasilitas Kesehatan
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza Munir al-Bursh mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan menghentikan pasokan solar ke lebih dari 20 rumah sakit dan pusat kesehatan mulai 19 September akibat kekurangan dana. WHO belum memberikan komentar resmi atas pernyataan tersebut.
Al-Bursh menyebut jumlah bahan bakar yang masuk ke Gaza "hampir tidak cukup untuk menjaga fasilitas kesehatan tetap beroperasi." Pernyataannya muncul bersamaan dengan kelangkaan bahan bakar dan suku cadang generator yang menyebabkan sejumlah alat pembangkit berhenti bekerja.
Dalam beberapa bulan terakhir, WHO memang telah mengumumkan pengurangan pendanaan untuk berbagai kegiatan dan programnya. Keputusan itu memperparah situasi fasilitas kesehatan yang sudah bergantung pada pasokan eksternal.
Blokade dan Gencatan Senjata yang Dipersoalkan
Kantor media pemerintah Gaza berulang kali menyatakan Israel gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025. Kewajiban itu termasuk mengizinkan masuknya bantuan dan bahan bakar dalam jumlah yang telah disepakati.
Krisis bahan bakar ini berlangsung di tengah dampak perang yang dimulai 8 Oktober 2023, disertai pengetatan blokade serta kerusakan parah pada infrastruktur dan sistem kesehatan Gaza. Sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut dilaporkan hancur.
Data otoritas Gaza mencatat lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 174.000 lainnya terluka sejak konflik berkepanjangan itu dimulai. Jumlah korban terus bertambah seiring berlanjutnya operasi militer dan krisis kemanusiaan.
Seruan Mendesak ke WHO dan Lembaga Kemanusiaan
Manajemen Al-Wafa menyerukan organisasi kesehatan dan kemanusiaan internasional untuk segera menyediakan bahan bakar, oli, suku cadang, dan kebutuhan operasional mendesak lainnya. Seruan itu ditujukan kepada WHO, PBB, serta para donor internasional.
Tanpa pasokan tersebut, rumah sakit berisiko kehilangan kemampuan melayani pasien yang selama ini bergantung pada perawatan dan rehabilitasi. Kondisi ini menambah beban sistem kesehatan Gaza yang sudah lumpuh akibat konflik berkepanjangan.