Trump Gelar KTT AI, Tech Boss Teken Pakta "Super Intelligence"

Trump Gelar KTT AI, Tech Boss Teken Pakta
Presiden AS Donald Trump memimpin pertemuan tertutup dengan para bos teknologi di Gedung Putih.

NUSAAKSARA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumpulkan para bos teknologi terkemuka dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih, menghasilkan kesepakatan pengawasan AI yang ia sebut "konstitusi" bagi industri. Kesepakatan itu ditandatangani oleh tujuh CEO perusahaan teknologi raksasa, termasuk Elon Musk dan Mark Zuckerberg. Pertemuan berlangsung di tengah desakan sejumlah pakar agar pemerintah memperketat regulasi AI.

Pertemuan yang digelar di Gedung Putih itu dihadiri pimpinan OpenAI, Anthropic, Nvidia, SpaceX, Meta, dan Google. Trump menyebutnya sebagai "pertemuan luar biasa" dari orang-orang yang "membangun Zaman Keemasan Amerika".

Daftar tamu mencakup Sundar Pichai dari Google, Dario Amodei dari Anthropic, Mark Zuckerberg dari Meta, Greg Brockman dari OpenAI, Elon Musk dari SpaceX, dan Jensen Huang dari Nvidia.

Isi Pakta: Tanggung Jawab Keamanan di Tangan Perusahaan

Trump mengatakan para eksekutif menandatangani dokumen yang "mengikat secara moral" sebagai "bentuk perlindungan" dari potensi risiko AI. Dokumen itu diunggah Trump di media sosial.

Dalam kesepakatan tersebut, perusahaan bertanggung jawab memastikan keamanan teknologi mereka sendiri. Mereka juga sepakat menerapkan pengamanan agar model beroperasi sesuai tujuan dan mendeteksi serta memperbaiki masalah dengan cepat.

Perusahaan akan bekerja sama dengan "auditor independen" untuk menilai apakah sistem AI mereka berjalan sebagaimana mestinya. Auditor juga memastikan platform mereka tidak "meretas atau mengakses sistem teknis dengan cara yang tidak diinginkan".

Kesepakatan ditandatangani Trump bersama Pichai, Amodei, Zuckerberg, Brockman, Musk, dan Huang.

"Ini hampir seperti konstitusi," kata Trump merujuk pada kesepakatan itu. "Dan orang-orang terbesar di dunia menandatanganinya, dan saya menandatanganinya sebagai presiden."

Trump menambahkan akan membentuk dewan untuk mengawasi keamanan peralatan AI. Ia tidak merinci siapa yang akan duduk di dewan tersebut.

Zuckerberg mengatakan kesepakatan itu memberi "masyarakat Amerika dan pelanggan keyakinan bahwa teknologi ini bekerja" sesuai tujuan. Amodei mengapresiasi Trump dan para bos teknologi karena bekerja menuju cara "untuk menang dengan aman".

Kritik Pakar: Regulasi Diri Dinilai Lemah

Tidak semua pakar teknologi terkesan dengan kesepakatan tersebut. Profesor hukum Kimberlee Weatheral dari University of Sydney menyebut pakta itu "sangat tidak mengesankan" dan muncul justru saat sejumlah pemimpin dunia serta tokoh industri menyerukan regulasi lebih ketat.

Weatheral menilai kesepakatan itu tampaknya membiarkan perusahaan "mendefinisikan apa yang dianggap sebagai keamanan" dan tidak menyebutkan konsekuensi apa pun atas pelanggaran.

"Kesepakatan itu harus diabaikan, karena hanya distraksi," ujarnya.

Jeannie Paterson dari Centre for Artificial Intelligence and Digital Ethics, University of Melbourne, mengatakan regulasi diri bisa berarti perusahaan hanya menetapkan "pengamanan minimal". Menurut dia, kesepakatan itu memberi "sangat sedikit kepercayaan" karena insiden AI belakangan menunjukkan perusahaan kurang disiplin.

Pada Senin, OpenAI mengumumkan membatalkan peluncuran model unggulan terbarunya, GPT-6.1 Astra, karena kekhawatiran keamanan. Pengendalian keamanan perusahaan itu mendapat sorotan tajam setelah sejumlah insiden, termasuk modelnya mengakses platform pemerintah Australia tanpa izin.

Dorongan Ekspansi Pusat Data dan Oposisi Publik

Trump juga menegaskan kembali dukungannya terhadap ekspansi cepat pusat data, infrastruktur komputasi krusial yang menggerakkan AI. Pembangunan pusat data menuai penolakan di berbagai wilayah Amerika Serikat karena kekhawatiran soal konsumsi listrik dan dampaknya terhadap masyarakat.

Pembangunan pusat data juga muncul sebagai hambatan politik potensial bagi Partai Republik menjelang pemilu sela November. Survei Marist Poll bersama NPR dan PBS News menemukan 65 persen pemilih terdaftar menolak pusat data dibangun di daerah mereka.

Menanggapi kekhawatiran itu, Trump mengatakan perusahaan teknologi akan berupaya membuat masyarakat "senang" dengan pembangunan pusat data.

"Perusahaan-perusahaan besar, kuat, sangat kaya, dan sangat pintar ini akan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat," kata Trump kepada wartawan.

Sebelumnya Trump mengatakan di media sosial bahwa satu-satunya alasan masyarakat Amerika menolak pusat data adalah jika mereka "ingin berakhir tertinggal dan miskin".

"Kabar baiknya, ada banyak tempat lain yang menginginkannya. Jika kita membunuh Angsa Emas, kalian hanya bisa menyalahkan diri sendiri," ujarnya.

Huang dari Nvidia, yang memproduksi cip komputer esensial untuk menjalankan AI, mengatakan setelah pertemuan bahwa pusat data seharusnya disebut "pabrik super intelligence". Fasilitas itu, katanya, sedang "mereindustrialisasi Amerika Serikat".

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index