NUSAAKSARA.COM — Dolar Amerika Serikat berbalik melemah ke level Rp 17.845 pada pembukaan perdagangan pagi ini, turun 0,22% dari posisi penutupan Selasa (22/9) di Rp 17.884. Pelemahan terjadi di tengah pergerakan yang variatif terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Meski terkoreksi hari ini, dolar AS masih mencatat penguatan 6,84% sepanjang 2026.
Data RTI Business juga mencatat pelemahan serupa. Dolar AS turun 0,16% ke level Rp 17.817 pada perdagangan pagi ini.
Pergerakan Variatif terhadap Mata Uang Utama Dunia
Terhadap sejumlah mata uang negara besar, dolar AS bergerak tidak seragam. Mata uang Paman Sam melemah terhadap euro, pound sterling, dan dolar Australia, tetapi menguat terhadap yen Jepang, dolar Kanada, dan franc Swiss.
- EUR: dolar AS turun 0,12%
- GBP: dolar AS turun 0,16%
- AUD: dolar AS melemah 0,18%
- JPY: dolar AS menguat 0,15%
- CAD: dolar AS naik 0,12%
- CHF: dolar AS menguat 0,13%
Penguatan 6,84% Sepanjang 2026 Masih Jadi Sorotan
Kendati terkoreksi pagi ini, dolar AS masih membukukan penguatan 6,84% sejak awal tahun. Pergerakan itu mencerminkan tekanan yang masih berlanjut terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
Bagi pelaku pasar, level Rp 17.800-an menjadi acuan penting. Importir yang membutuhkan dolar untuk pembayaran barang dan jasa akan merasakan langsung biaya yang lebih tinggi dibanding awal tahun. Eksportir di sisi lain masih menikmati daya saing harga produk di pasar global.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama lain menjadi indikator arah jangka pendek. Pelemahan terhadap euro dan pound sterling, tetapi penguatan terhadap yen dan franc Swiss, menunjukkan sentimen pasar yang belum seragam.
Investor dan pelaku bisnis perlu memantau data ekonomi global serta kebijakan bank sentral utama yang bisa mengubah arah dolar AS dalam beberapa hari ke depan.