Trenggono Tinjau Kampung Nelayan Merah Putih Tongke-Tongke, Harga Tuna Naik Jadi Rp45.000 per Kg

Jumat, 25 September 2026 | 13:00:31 WIB
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meninjau Kampung Nelayan Merah Putih Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026). Sejak kampung nelayan itu beroperasi awal Juni 2026, harga ikan tuna di tingkat nelayan naik dari Rp25.000 menjadi Rp45.000 per kilogram. Pendapatan nelayan pun melonjak dari sekitar Rp3 juta menjadi Rp6,5 juta–Rp7 juta per bulan.

KNMP Tongke-Tongke menaungi 554 nelayan dengan komoditas utama ikan tuna. Fasilitas yang tersedia meliputi cold storage, pabrik es balok, kios perbekalan, kendaraan berpendingin, sentra kuliner, cool box, hingga kendaraan roda tiga.

Harga Tuna Naik Hampir Dua Kali Lipat

Dampak paling terasa bagi warga pesisir adalah lonjakan harga jual ikan tuna. Sebelum KNMP beroperasi, harga tuna di tingkat nelayan hanya berkisar Rp25.000–Rp30.000 per kilogram. Kini angkanya naik menjadi Rp40.000–Rp45.000 per kilogram.

Kenaikan itu turut mengerek pendapatan nelayan dari sekitar Rp3 juta per bulan menjadi Rp6,5 juta–Rp7 juta per bulan. Operasional kawasan juga mulai membuka lapangan kerja, dengan 17 tenaga kerja terlibat, terutama di unit gudang beku dan pabrik es balok.

"Satu hal dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat saat ini, yaitu peningkatan harga ikan tuna yang awalnya hanya Rp25 ribu per kilogram (kg), saat ini telah meningkat menjadi Rp45 ribu per kg," ujar Ketua Satgas Operasionalisasi KNMP Victor Gustaaf Manoppo.

Omzet Koperasi dan Ekspor Tuna ke Tiga Negara

Sejak mulai beroperasi pada awal Juni 2026, KNMP Tongke-Tongke mencatat omzet koperasi Rp32,19 juta. Sumbernya berasal dari penyewaan gudang beku, penjualan es balok, kios kuliner, penyewaan cool box, kios perbekalan, dan kendaraan roda tiga.

Dari sisi pemasaran, hasil produksi kawasan itu mulai dikirim ke Jakarta. Pengiriman tuna loin telah dilakukan enam kali dengan total 65 ton senilai sekitar Rp2,55 miliar. Produk tersebut dikirim ke sejumlah unit pengolahan ikan di Jakarta sebelum dipasarkan ke pasar internasional, termasuk China, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Victor menyatakan KNMP Tongke-Tongke telah dilengkapi infrastruktur integrasi, mulai dari cold storage, kios perbekalan, pabrik es balok, kendaraan berpendingin, hingga fasilitas umum lainnya.

"Di KNMP Tongke-tongke telah dilengkapi infrastruktur integrasi, mulai dari cold storage, kios perbekalan, pabrik es balok, kendaraan berpendingin, serta fasilitas-fasilitas umum lainnya," jelasnya.

Permintaan Trenggono: Cold Storage Minus 60 Derajat

Trenggono menekankan KNMP Tongke-Tongke masih akan dikembangkan, terutama untuk memperbaiki kualitas hasil tangkapan tuna. Perhatian khusus diberikan pada fasilitas penyimpanan ikan.

"Jadi saya minta didesain cold storage-nya kalau katakan di Sinjai adalah tuna rata-rata. Maka cold storage-nya dia harus punya titik beku sampai dengan minus 60 derajat," ujarnya.

Peningkatan kualitas ikan dinilai penting karena berpengaruh langsung terhadap harga jual yang diterima nelayan. Trenggono juga menyoroti persoalan permodalan agar nelayan tidak terus bergantung kepada tengkulak.

"Tinggal PR satu lagi adalah bagaimana nelayan melaut tidak usah pakai modal. Nah itu tanggung jawabnya Pak Menteri Koperasi ya. Pak Ferry," ucap dia.

Ia menyebut Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) nantinya dapat berperan sebagai offtaker hasil tangkapan nelayan. Trenggono mengaku telah membicarakan peluang kerja sama dengan pengusaha di China untuk menjadi pembeli hasil produksi KNMP.

Pembangunan Tak Berhenti di Fasilitas Fisik

Trenggono menegaskan pembangunan KNMP tidak berhenti pada fasilitas fisik. Pemerintah akan mendorong kawasan tersebut menjadi pusat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

"Ini dalam beberapa waktu yang akan datang lagi, akan kita ubah lagi menjadi yang lebih baik. Sehingga seluruh nelayan di sini menjadi model, nelayan Sinjai sejahtera," katanya.

Ke depan, KKP mengarahkan KNMP Tongke-Tongke tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga menjadi sentra perikanan yang melakukan ekspor secara mandiri. Peningkatan kapasitas produksi, mutu, keamanan pangan, dan akses pasar internasional menjadi kunci untuk mencapai target itu.

Trenggono menilai pembangunan kampung nelayan merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat pesisir. Menurutnya, selama ini pembangunan sarana produksi lebih banyak dirasakan sektor pertanian dibandingkan nelayan.

"Jadi kalau di darat itu petani oleh pemerintah dibuatkan bendungan, dibuatkan irigasi, ya primer, sekunder, tersier. Dibuatkan pabrik pupuk untuk diberikan subsidi kepada mereka. Lalu kemudian diberikan juga bibit dan sarana prasarana lainnya. Nelayan mana pernah itu dilakukan? Semenjak pemerintahan Bapak Prabowo ini, kita bangun desa-desa nelayan," kata Trenggono dalam acara Sinergi Lintas Sektor: Tata Kelola dan Operasionalisasi KNMP.

Terkini