Laba Bank Semester II 2026 Diproyeksi Turun 3%, BRI Danareksa Beberkan Pemicunya

Senin, 28 September 2026 | 12:00:31 WIB
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan laba perbankan semester II 2026 turun sekitar 3% secara tahunan.

NUSAAKSARA.COM — BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba sektor perbankan pada semester II 2026 turun sekitar 3% secara tahunan jika tidak memperhitungkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Proyeksi ini jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan laba perbankan pada semester I 2026 yang mencapai 11% yoy. Tekanan datang dari likuiditas yang semakin ketat dan biaya dana yang meningkat.

Suku Bunga IndONIA di Atas BI-Rate

Pemicu utama perlambatan adalah kondisi likuiditas yang semakin ketat. BRIDS mencatat suku bunga IndONIA sudah berada di atas BI-Rate. Bunga deposito tenor satu bulan juga menembus sekitar 4,2%, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Biaya dana atau cost of funds industri perbankan tercatat 2,8% pada Juli 2026. Angka ini mencerminkan beban bunga yang harus ditanggung bank untuk menghimpun dana dari masyarakat semakin berat.

Funding Gap Capai Rp 591 Triliun

BRIDS mencatat funding gap industri perbankan mencapai Rp 591 triliun pada Juni 2026. Jika seluruh penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 299 triliun ditarik dari perbankan, rasio loan to deposit ratio (LDR) industri diperkirakan naik hingga 92%.

Artinya, ruang bank untuk menyalurkan kredit semakin sempit. Bank harus bersaing lebih keras mencari dana, yang ujungnya menekan margin keuntungan.

Risiko Agrinas dan Kopdes Mulai Mereda

Di tengah tekanan likuiditas, ada kabar baik dari sisi kualitas aset. BRIDS menilai risiko dari pembiayaan Agrinas dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) mulai mereda. Pemerintah telah membayar cicilan pertama pinjaman sebesar Rp 37,7 triliun, dengan BRI menerima pembayaran sebesar Rp 11,9 triliun.

"Hilangkan risiko reklasifikasi ke special mention," demikian tertulis dalam riset BRIDS.

Pembayaran cicilan ini mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan kredit bermasalah di bank-bank yang terlibat pembiayaan program tersebut.

Tekanan ke Margin dan Likuiditas

Bagi nasabah dan investor, perlambatan laba bank bisa berarti bunga deposito tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Di sisi lain, bank mungkin lebih selektif menyalurkan kredit karena ruang likuiditas terbatas.

Investor saham perbankan juga perlu mencermati bahwa pertumbuhan laba yang melambat dapat menekan valuasi saham sektor ini. Namun, dengan masih adanya proyeksi pertumbuhan 4% untuk tahun penuh, sektor perbankan belum sepenuhnya kehilangan daya tarik.

Yang perlu dicermati ke depan adalah apakah pengetatan likuiditas ini bersifat sementara atau berlanjut. Jika suku bunga IndONIA dan bunga deposito terus naik, tekanan terhadap laba bank pada semester II 2026 bisa lebih dalam dari perkiraan.

Terkini