Serangan ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, Koalisi Saudi Sebut Kejahatan Perang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 11:00:31 WIB
Petugas mengevakuasi korban luka dari terminal Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.

NUSAAKSARA.COM — Sedikitnya 12 orang tewas dan 309 lainnya luka-luka dalam serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Korban tewas mencakup warga empat negara berbeda, termasuk seorang warga Amerika Serikat, menurut otoritas penerbangan sipil Saudi. Koalisi militer pimpinan Saudi menyebut serangan itu sebagai "kejahatan perang" dan berjanji membalas.

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan operasi di Bandara Internasional King Khalid dihentikan sementara setelah serangan yang menghantam salah satu terminal penumpang. Sejumlah korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Koalisi militer pimpinan Saudi menuding kelompok Houthi yang didukung Iran berada di balik serangan tersebut. Juru bicara koalisi, Mayjen Turki al-Maliki, menyebut serangan itu sebagai "kejahatan perang skala penuh" karena menewaskan dan melukai penumpang sipil serta staf bandara.

Korban Tewas dari Enam Negara

Menurut otoritas penerbangan sipil Saudi, korban tewas terdiri dari empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir. Kerusakan pada fasilitas bandara masih dalam proses penilaian.

Seorang saksi mata yang berada di terminal domestik mengatakan kepada kantor berita bahwa ia melihat gerbang 401 terkena hantaman dan "korban berjatuhan di depan mata saya". Ia menambahkan, "Semua orang berlarian."

Lebih dari selusin ambulans terlihat bergegas menuju bandara, menurut kantor berita Reuters yang mengutip seorang saksi.

Serangan Sehari Sebelumnya dan Pola Eskalasi

Serangan ini terjadi sehari setelah otoritas mengumumkan tiga warga Saudi, termasuk seorang pilot, tewas dalam dua serangan terhadap bandara oleh Houthi. Tiga orang lainnya juga tewas dalam serangan Houthi terhadap dua bandara Saudi pada 6 dan 7 Oktober.

Houthi tidak mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru, namun kelompok itu berada di balik serangan terpisah terhadap bandara pada Kamis yang menewaskan tiga orang dan merusak sebuah pesawat. Serangan hari Sabtu menjadi yang paling mematikan di kerajaan itu sejak Mei 2015.

Selain serangan di bandara Riyadh, sebuah proyektil juga jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Arab Saudi bagian timur, pada hari yang sama, menurut koalisi pimpinan Saudi.

Respons Internasional dan Peringatan Evakuasi

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengecam keras serangan terhadap Arab Saudi dan mengonfirmasi bahwa seorang warga AS tewas dalam insiden tersebut. Ketika ditanya apakah AS berencana bergabung dengan Arab Saudi untuk melancarkan serangan balasan terhadap Houthi, Presiden Donald Trump mengatakan, "Kami mungkin. Kami akan melihatnya. Kami baru mengetahui serangan terbaru ini, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat."

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan dirinya "sangat terkejut" oleh serangan tersebut. Ia menyebutnya sebagai "pelanggaran hukum internasional" yang "harus segera dihentikan".

Serangan itu juga dikutuk oleh Mesir, Palestina, dan Qatar. Kedutaan besar negara-negara Barat di Arab Saudi memperingatkan warga mereka untuk menjauhi bandara Riyadh. Kantor Luar Negeri Inggris mengimbau warga Inggris menghindari area tersebut "sampai bandara aman".

Beberapa maskapai penerbangan Teluk mengumumkan pembatalan penerbangan ke dan dari bandara tersebut. Kuwait Airways menyebut alasan pembatalan sebagai "situasi keamanan" di sana. Semua penerbangan menuju Riyadh dialihkan atau dibatalkan, menurut pelacak penerbangan Flightradar.

Latar Belakang Konflik Yaman dan Selat Bab al-Mandab

Houthi menyatakan mereka menargetkan Arab Saudi sebagai respons atas dukungan Riyadh terhadap pasukan pemerintah Yaman dalam perang saudara di negara itu. Konflik semakin memburuk setelah Houthi merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah dalam ofensif cepat.

Wilayah yang direbut termasuk pelabuhan Mokha di Selat Bab al-Mandab, titik tersempit Laut Merah dan jalur pelayaran global yang krusial. Pasukan pro-pemerintah Yaman kemudian menyatakan telah "mengamankan" selat di ujung selatan Laut Merah tersebut.

Koalisi pimpinan Saudi dibentuk pada 2015 setelah negara-negara Arab bergabung untuk menghentikan Houthi merebut Yaman dari pemerintah yang diakui internasional. Gencatan senjata sementara dimediasi pada 2022 setelah bertahun-tahun serangan udara dan pertempuran darat menewaskan ratusan ribu orang, memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Namun gencatan senjata informal itu mulai runtuh pada Juli. Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi dan memulai serangan rudal serta drone terhadap bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi di Laut Merah. Mereka menyebut tindakan itu sebagai balasan atas apa yang mereka gambarkan sebagai blokade Saudi selama bertahun-tahun dan serangan udara terhadap bandara di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi.

Terkini