NUSAAKSARA.COM — Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah menempatkan hilirisasi dan transisi energi sebagai kunci kemakmuran rakyat sekaligus penguat perekonomian nasional menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyatakan program hilirisasi menunjukkan peningkatan signifikan dan semakin memperbesar kontribusinya terhadap investasi nasional. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memasuki tahun kedua pada Oktober 2026.
Di bawah kepemimpinan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka itu menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
Hilirisasi sebagai Instrumen Amanat Konstitusi
Todotua menegaskan, hilirisasi tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah ekonomi. Program ini juga menjadi instrumen untuk mewujudkan amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yakni pemanfaatan sumber daya alam bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
"Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program hilirisasi menunjukkan peningkatan signifikan dan semakin memperbesar kontribusinya terhadap investasi nasional," ujar Todotua.
Industrialisasi dan Kemandirian Energi Jadi Strategi Inti
Pemerintah terus mendorong hilirisasi, industrialisasi, dan kemandirian energi sebagai strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Ketiga agenda itu dirangkai untuk memperkuat perekonomian nasional di tengah tekanan global.
Transisi energi ditempatkan sejajar dengan hilirisasi dalam kerangka kebijakan investasi. Pendekatan ini menyasar pengolahan komoditas di dalam negeri agar nilai tambah tidak hilang ke luar negeri.
Dampak ke Lapangan Kerja dan Investasi Daerah
Penyerapan lebih dari 1,4 juta tenaga kerja pada semester I 2026 menjadi indikator awal dampak program hilirisasi. Angka investasi Rp1.010,6 triliun mencerminkan pertumbuhan 7,2 persen secara year-on-year.
Pemerintah memproyeksikan kontribusi hilirisasi terhadap investasi nasional terus membesar pada tahun kedua pemerintahan. Arah kebijakan ini akan diuji oleh realisasi investasi pada semester II 2026.