Museum Sriwijaya Dharmakirti Jadi Bukti, Kemenbud Dorong Revitalisasi Nasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:00:31 WIB
Pengunjung mengamati koleksi di Museum Sriwijaya Dharmakirti, Muara Jambi.

NUSAAKSARA.COM — Museum Sriwijaya Dharmakirti di Muara Jambi mencatat 3.000 hingga 4.000 pengunjung per hari pada akhir pekan meski lokasinya belum terjangkau transportasi umum memadai. Capaian itu menjadi bukti konkret program revitalisasi museum yang dijalankan Kementerian Kebudayaan di bawah Menteri Fadli Zon. Pemerintah kini mendorong museum di seluruh Indonesia menjadi pusat edukasi hingga motor baru pertumbuhan ekonomi.

Peringatan yang mengusung tema "Kebudayaan Soko Guru Bangsa, Museum sebagai Rumah Budaya" itu digelar pada 12 Oktober 2026. Fadli menilai momentum tersebut krusial untuk menghidupkan museum milik pemerintah pusat, daerah, swasta, maupun perorangan.

Museum Sriwijaya Dharmakirti Jadi Tolok Ukur Kunjungan

Museum Sriwijaya Dharmakirti di Muara Jambi yang baru diresmikan pada Agustus 2026 disebut sebagai bukti konkret program penghidupan kembali museum. Penataan modern dengan sentuhan teknologi membuat museum itu menyedot 3.000 hingga 4.000 pengunjung per hari pada akhir pekan.

Lokasi museum yang belum terjangkau transportasi umum memadai tidak menghalangi antusiasme publik. Fadli menyebut angka kunjungan itu sebagai indikasi bahwa museum yang dikelola serius bisa menarik minat besar, khususnya generasi muda.

"Museum bukan sekadar tempat menyimpan artefak atau cost center, melainkan ruang hidup, pusat inspirasi, serta potensi besar sebagai new engine of economic growth. Jika ditata dan dikelola dengan baik lewat pameran yang standar, penceritaan (storyline) yang kuat, hingga sentuhan teknologi imersif, museum mampu menarik antusiasme publik yang sangat besar, khususnya generasi muda," ujar Fadli dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

Lima Strategi yang Dijalankan Kementerian

Kementerian Kebudayaan menyiapkan sejumlah langkah untuk memajukan ekosistem permuseuman nasional. Upaya tersebut mencakup revitalisasi fisik dan tata pamer museum, penguatan sumber daya manusia dan riset, serta dukungan pendanaan swasta dan filantropis.

Dua langkah lain adalah penguatan sistem registrasi nasional dan inovasi program generasi muda. Fadli menempatkan revitalisasi museum sebagai program prioritas kementerian yang berdiri mandiri sejak dibentuk Presiden Prabowo Subianto.

Pembentukan kementerian tersendiri, menurut Fadli, memungkinkan fokus dan akselerasi penuh pada perlindungan, pemanfaatan, serta diplomasi kebudayaan. Ia menilai kebudayaan merupakan sumber daya sirkular yang tidak pernah habis.

Sinergi Pemerintah, Swasta, dan Komunitas

Fadli menegaskan pelestarian ekosistem budaya tidak bisa berjalan sendiri di tangan pemerintah. Sinergi erat antara lembaga swasta, komunitas, dan masyarakat dinilai sama pentingnya dengan revitalisasi museum.

Peran museum disebutnya kian relevan sebagai ruang edukasi, penelitian, dialog, dan kreativitas yang inklusif. Museum juga berfungsi merawat warisan budaya dan memperkuat identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

"Mari kita jadikan museum bukan hanya sebagai rumah bagi koleksi, melainkan juga sebagai rumah bagi gagasan, ingatan kolektif, dialog, dan masa depan kebudayaan Indonesia. Kebudayaan adalah sokoguru bangsa, dan museum merupakan salah satu rumah utama tempat nilai-nilai kebangsaan dirawat, dipelajari, diwariskan, dan terus dikembangkan," tutupnya.

Penghargaan dan Pameran Seni Meriahkan Peringatan

Peringatan Hari Museum Indonesia 2026 juga menghadirkan prosesi Penganugerahan Ksatria Award dari Museum Rudana. Prof. Dr. RM. Soemitro Djojohadikoesoemo menerima Anugerah Ksatria Mahottama Nagara dan Dr. Nyoman Nuarta menerima Anugerah Ksatria Mahottama Budaya.

Fadli Zon sendiri menerima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara. Acara itu turut dibuka dengan pameran tunggal perupa Wayan Kun Adnyana bertajuk "Gunung Suwung: Enigmatic Color Triumph through a Retrospective Journey".

Hadir dalam kegiatan tersebut Founder Museum Rudana Nyoman Rudana, Duta Besar Romania untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Dan Adrian Balanescu, Rektor ISI Bali I Wayan Kun Adnyana, serta Rektor Universitas Hindu Indonesia Cokorda Gde Bayu Putra. Tampak mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan dan Penasihat Menteri bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum Putu Supadma Rudana.

Terkini