IHSG Anjlok 2,09% ke 5.217 di Pembukaan, Sektor Material Dasar Tertekan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 09:30:31 WIB
Papan digital Bursa Efek Indonesia menampilkan pelemahan IHSG pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026).

NUSAAKSARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan merosot 111,22 poin atau 2,09% ke level 5.217,14 pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026), dibuka dengan tekanan jual yang dalam. Pelemahan dipicu aksi jual di sektor material dasar yang turun 1,5%, teknologi 1,1%, dan keuangan 0,8%. Investor menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia serta respons pemerintah atas ancaman penurunan klasifikasi pasar saham oleh MSCI.

Data Refinitiv mencatat volume transaksi pagi ini mencapai 8,75 juta lot dengan nilai perdagangan Rp408,56 miliar. Tekanan jual merata di tiga sektor utama yang menjadi penopang indeks, dengan material dasar memimpin pelemahan.

Saham Pemberat dan Pengungkit IHSG Pagi Ini

Sejumlah saham blue chip menyeret indeks ke zona merah. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), dan PT Astra International Tbk (ASII) menjadi pemberat utama.

Di kubu berlawanan, beberapa saham masih bertahan di teritori positif dan menahan pelemahan lebih dalam. PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Golden Flower Tbk (POLU) masuk daftar pengungkit.

Dua Sentimen Domestik yang Dicermati Pelaku Pasar

Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan, disertai sejumlah kebijakan baru untuk mendorong penyaluran kredit perbankan. Keputusan otoritas moneter menjadi acuan investor menimbang arah imbal hasil obligasi dan biaya dana perbankan ke depan.

Dari sisi pemerintah, pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna soal ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menjadi perhatian. Prabowo menilai langkah lembaga penyedia indeks global itu sebagai bentuk tekanan terhadap pelaku pasar.

"Kita masih banyak gangguan, masih banyak kita terus dihadang ada apa itu, macem-macem lah ada MSCI macem-macem dia mau takut-takutin kita," ujar Prabowo, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (21/10/2026).

Status Konsultasi MSCI dan Tenggat 2027

MSCI tengah mengkaji kemungkinan mengubah klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kajian masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar hingga April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan gentar menghadapi tantangan tersebut meski pasar saham tertekan cukup besar. Pemerintah, menurutnya, tetap melanjutkan agenda pembangunan di tengah tekanan eksternal.

Reformasi Pasar Modal Jadi Kunci

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan reformasi pasar modal yang dijalankan otoritas, terutama transparansi kepemilikan saham dan penegakan aturan perdagangan. Dua aspek itu menjadi sorotan menjelang keputusan akhir MSCI pada Juni 2027.

Dari eksternal, inflasi Inggris yang kembali meningkat dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Prancis menambah beban sentimen. Kombinasi tekanan global dan ketidakpastian status klasifikasi membuat investor cenderung menahan posisi beli pada sesi pagi.

Terkini