NUSAAKSARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 4,39% ke level 4.957 pada pembukaan perdagangan Senin (19/10), meninggalkan zona 5.000. Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak memerah, dengan saham bank jumbo swasta BBCA anjlok 6,86% hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Pelemahan ini memperpanjang tren turun yang sudah terkonfirmasi sejak penutupan Jumat (16/10) lalu.
Data bursa mencatat volume perdagangan pagi ini mencapai 2,41 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,95 triliun. Kapitalisasi pasar ikut tergerus ke Rp 8.767 triliun, sementara frekuensi perdagangan tercatat 147 ribu kali transaksi.
Saham Bank Jumbo Kompak Merah, BBCA Paling Dalam
Tekanan jual paling tajam dialami PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 6,86% ke Rp 4.820, tepat di batas ARB. Empat bank besar lainnya juga terpuruk:
- BBRI merosot 5,68% ke Rp 2.490
- BMRI turun 3,54% ke Rp 3.280
- BBNI anjlok 3,37% ke Rp 2.880
Pelemahan merata di seluruh sektor menegaskan bahwa tekanan kali ini bersifat sistemik, bukan hanya sentimen sektoral perbankan.
Wave V Terkonfirmasi, Support Terdekat di 5.020
Analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, menilai IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan ke level 5.020, bahkan lebih buruk ke 4.808. Menurut dia, penutupan Jumat (16/10) sudah mengonfirmasi pergerakan wave v setelah penembusan di bawah fraktal 5.317 yang menjadi akhir wave iii pada tren turun sebelumnya.
"Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish," kata Ivan dalam keterangannya, dikutip Senin (19/10).
Level support IHSG berada di 5.020, 4.895, dan 4.767. Adapun resistance berada di 5.500, 5.800, dan 6.216.
Arti Level 4.957 bagi Investor
Posisi 4.957 menempatkan IHSG di bawah support pertama 5.020 yang disebut Ivan. Jika level ini tidak bertahan, peluang indeks menyentuh 4.895 terbuka, dengan risiko lanjutan ke 4.767.
Bagi pemegang saham perbankan, ARB di BBCA membatasi ruang gerak harga dalam satu sesi. ARB sendiri merupakan batas penurunan harian yang ditetapkan bursa, sehingga saham yang menyentuhnya tidak bisa turun lebih dalam pada hari tersebut.
Investor perlu mencermati apakah aksi beli muncul di area support atau justru terjadi panic selling lanjutan. Rekomendasi analis dalam bahan ini belum menyertakan target harga spesifik, hanya rentang support dan resistance.