Rupiah Melemah ke Rp18.152 per Dolar AS Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Rabu, 28 Oktober 2026 | 09:30:31 WIB
Rupiah dibuka melemah ke Rp18.152 per dolar AS pada Rabu (28/10/2026).

NUSAAKSARA.COM — Rupiah dibuka di level Rp18.152 per dolar AS pada Rabu (28/10/2026), melemah 7 poin atau 0,04% dari penutupan sehari sebelumnya di Rp18.145. Pelemahan terjadi saat indeks dolar AS (DXY) menguat 0,09% ke 102,415, tepat menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve. Tekanan ganda datang dari eksternal dan domestik: dolar menguat, sementara minat investor di lelang surat utang negara anjlok ke titik terendah sejak November 2024.

Data Refinitiv mencatat rupiah membuka perdagangan di Rp18.152/US$, melanjutkan tren pelemahan yang belum mereda. Penguatan dolar AS mempersempit ruang gerak mata uang Garuda, sementara pasar surat utang domestik turut menambah beban sentimen.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau di posisi 102,415 pada pukul 09.00 WIB. Posisi itu bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua pekan, cermin sikap hati-hati pelaku pasar menilai prospek suku bunga AS.

Lelang SUN Lesu, Penawaran Anjlok 52,1%

Dari dalam negeri, minat investor pada lelang Surat Utang Negara (SUN) Selasa (27/10/2026) melemah tajam. Total penawaran yang masuk hanya Rp31,09 triliun, turun 52,1% dibanding lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.

Pemerintah hanya menyerap Rp20,65 triliun dari lelang tersebut, jauh di bawah target indikatif Rp30 triliun. Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN seri FR0111 bertenor sekitar 10 tahun mencapai 7,55%.

Permintaan yang menipis mencerminkan kehati-hatian investor di pasar obligasi domestik. Kondisi berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, terutama bila disertai arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Pasar Beri Peluang 91% The Fed Tahan Bunga

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan diumumkan Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB. Mengutip laporan Reuters, pasar memperkirakan peluang 91% bahwa bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00%.

Probabilitas tinggi tersebut mengalihkan fokus investor ke petunjuk arah kebijakan selanjutnya, terutama peluang kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.

Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh akan menjadi sorotan utama. Sinyal kebijakan yang lebih ketat berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sebaliknya, nada yang lebih lunak dapat membuka ruang penguatan bagi mata uang regional.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi investor obligasi, yield FR0111 di 7,55% menawarkan imbal hasil menarik, tetapi risiko nilai tukar tetap membayangi. Pelemahan rupiah menggerus return riil bagi pemegang dana berdenominasi dolar yang menempatkan modal di SUN.

Pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas perlu mencermati arah pergerakan kurs dalam beberapa hari ke depan. Keputusan The Fed dan nada pernyataan Warsh akan menentukan apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut atau mereda.

Terkini