NUSAAKSARA.COM — Institut Teknologi PLN menyatakan kesiapannya memasok tenaga kerja terampil untuk program PLTS 100 GWp yang diproyeksikan menyerap 5,5 juta orang dalam tiga tahun. Kebutuhan itu terungkap dalam Podcast ET Talk ITPLN yang dipandu Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa bersama Asosiasi Energi Surya Indonesia. Saat ini industri energi surya nasional baru menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja.
Program pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt-peak menuntut kesiapan sumber daya manusia dalam skala besar. Institut Teknologi PLN memastikan ambil bagian menyiapkan talenta terampil agar target pengembangan energi surya nasional tidak terhambat kekurangan pekerja.
Kebutuhan tenaga kerja untuk program PLTS 100 GWp mencapai 5,5 juta orang dalam tiga tahun ke depan. Angka itu disampaikan dalam Podcast ET Talk ITPLN yang dipandu Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa, dengan narasumber dari Asosiasi Energi Surya Indonesia.
Rincian 5,5 Juta Pekerja: Manufaktur dan Lapangan
Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari merinci komposisi kebutuhan tenaga kerja tersebut. Sekitar 3,5 juta pekerja dibutuhkan di sektor manufaktur, sementara 2 juta lainnya bekerja di lapangan.
Besarnya angka itu menunjukkan pengembangan PLTS harus dibarengi percepatan penyiapan tenaga kerja kompeten. Kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan SDM pun menjadi pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha.
“PLTS ini sifatnya multidisiplin. Bukan hanya membutuhkan lulusan teknik elektro, sistem energi, atau teknik tenaga listrik, tetapi juga bidang hukum, keuangan, manajemen, hingga pengembangan masyarakat,” kata Mada.
Pembangunan PLTS memerlukan tenaga kerja di berbagai tahap, dari instalasi dan konstruksi hingga pengelolaan proyek. Selain kompetensi teknis, industri butuh tenaga manajerial yang paham karakteristik investasi dan operasional pembangkit surya.
Baru 10 Ribu Pekerja Terserap di Industri Surya
Iwa Garniwa menyebut saat ini baru sekitar 10 ribu tenaga kerja yang terserap di industri energi surya Tanah Air. Jumlah itu jauh dari kebutuhan yang diproyeksikan, sehingga ITPLN mengambil peran strategis menyiapkan lulusan sesuai kebutuhan industri.
“Tadi saya sampaikan bahwa ITPLN mendeklarasikan sebagai perguruan tinggi transisi energi yang salah satu fokus kami tentang PLTS. Bahkan PLTS terbaru, yang dua muka itu juga kami telah punya. Buat sahabat energi, program PLTS 100 GWp itu butuh 5,5 juta talenta terampil dalam 3 tahun ke depan, itu tantangan buat kita semua,” ujar Iwa.
Perkembangan teknologi energi surya berlangsung cepat. Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kerja tidak bisa ditunda jika Indonesia ingin mengejar target kapasitas terpasang.
Tenaga Ahli Asing dan Transfer Pengetahuan
Ketersediaan tenaga kerja lokal pada tingkat manajerial menengah hingga atas dinilai masih perlu diperkuat. Dalam sejumlah proyek, investor asing masih membawa tenaga ahli sendiri untuk memastikan investasi berjalan sesuai standar.
AESI mendorong penerapan alih pengetahuan dan transfer teknologi agar pekerja Indonesia menguasai kompetensi yang dibutuhkan. Penggunaan tenaga kerja asing perlu mempertimbangkan ketersediaan kompetensi lokal sekaligus memastikan transfer pengetahuan saat keahlian tertentu masih terbatas di dalam negeri.
“Kami yakin kemampuan tenaga kerja lokal ada. Namun, jumlahnya belum banyak sehingga kemampuan tersebut belum bisa direplikasi dalam skala besar,” imbuh Mada.
Untuk mempersempit kesenjangan, AESI menjalankan program AESI Goes to Campus. Program itu memperkenalkan kebutuhan kompetensi industri PLTS kepada mahasiswa, sekaligus membuka wawasan soal peluang karier di sektor energi bersih.
Warga Harus Jadi Bagian dari Transisi Energi
Pengembangan tenaga kerja transisi energi juga perlu melibatkan masyarakat. Penerimaan warga terhadap pembangunan pembangkit baru dan kemampuan mengintegrasikan teknologi ke kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari keberhasilan proyek.
“Prinsipnya, transisi energi harus memastikan no one left behind. Masyarakat harus menjadi bagian dari proses ini,” tegas Mada.
ITPLN dan AESI menilai kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan industri diperlukan untuk memastikan kesiapan tenaga kerja sebelum proyek PLTS berkembang dalam skala besar. Pendidikan vokasi, peningkatan keterampilan, dan penguatan kerja sama industri menjadi faktor penentu.
Tanpa pasokan talenta yang memadai, target 100 GWp berisiko berhenti di atas kertas. Penyiapan SDM sejak sekarang menjadi syarat agar pembangunan pembangkit surya skala besar benar-benar berdampak pada bauran energi nasional.