NUSA AKSARA - Ribuan umat Hindu dari berbagai daerah mengikuti Upacara Tawur Agung Kesanga Nasional di kawasan Candi Prambanan, Rabu. Kegiatan ini menjadi bagian utama rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Upacara yang berlangsung di Wisnu Mandala ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Prosesi juga dimaknai sebagai bentuk penyucian alam semesta menjelang Nyepi.
Kehadiran Umat dari Berbagai Daerah
Kegiatan ini diikuti sekitar 30 hingga 35 ribu umat Hindu dari berbagai wilayah di Indonesia. Peserta datang dari Pulau Jawa, Lampung, hingga Bali untuk mengikuti rangkaian ibadah bersama.
Direktur Komersial InJourney Destination Management, Gistang Panutur, menyampaikan kesiapan pihak pengelola dalam mendukung kelancaran kegiatan. Ia memastikan seluruh proses berjalan tertib tanpa mengurangi nilai sakral.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi 30 hingga 35 ribu umat Hindu yang hadir memadati lapangan Wisnu Mandala Candi Prambanan. Seluruh tim operasional telah disiagakan untuk mengawal jalannya prosesi agar tetap tertib tanpa mengurangi nilai sakralitas ibadah,” katanya.
Selain prosesi utama, kegiatan juga menampilkan pawai budaya. Ogoh-ogoh dan gunungan menjadi bagian dari rangkaian yang berlangsung di dalam kawasan Taman Wisata Candi Prambanan.
Tema Persaudaraan dan Tanggung Jawab Bersama
Perayaan Nyepi tahun ini mengusung tema “Vasudaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga”. Tema tersebut menekankan nilai persaudaraan universal dan pentingnya menjaga keharmonisan kehidupan bersama.
Upacara ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang interaksi sosial dan budaya. Nilai toleransi dan kebersamaan menjadi pesan utama yang disampaikan dalam rangkaian acara.
Penutupan Kawasan Saat Hari Nyepi
Sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian, pengelola akan menutup sementara kawasan Taman Wisata Candi Prambanan. Penutupan dilakukan selama perayaan Nyepi berlangsung.
Penutupan dimulai pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 06.00 WIB hingga Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00 WIB. Selama periode tersebut, seluruh area zona I dan zona II akan steril dari aktivitas pariwisata.
Selain itu, pemadaman listrik juga dilakukan di sekitar kawasan candi. Kebijakan ini bertujuan menjaga suasana hening dan khusyuk selama Hari Suci Nyepi.
Gistang menyampaikan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga nilai spiritual kawasan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara fungsi wisata dan nilai budaya.
“Melalui agenda ini, pengelola berharap Candi Prambanan terus menjadi ruang kontemplasi yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat kekeluargaan dan kebersamaan menjelang Nyepi. Ini merupakan simbol tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian situs, pengembangan seni budaya dan harmoni sosial di sekitar Candi Prambanan khususnya,” katanya.
Ruang Spiritual dan Budaya di Kawasan Prambanan
Pelaksanaan Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan menunjukkan fungsi kawasan ini tidak hanya sebagai destinasi wisata. Lokasi tersebut juga menjadi ruang spiritual yang mendukung kegiatan keagamaan dan budaya.
Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana situs bersejarah dapat dimanfaatkan secara berimbang. Selain sebagai objek wisata, kawasan ini juga menjadi bagian dari praktik keagamaan dan pelestarian tradisi.
Dengan jumlah peserta yang besar, pelaksanaan acara ini juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Namun, fokus utama tetap pada nilai spiritual yang menjadi inti dari perayaan Nyepi.
(CHY)