Riset Universitas Indonesia-Kemendagri Soroti Potensi Desa Bandung di Pandeglang

Riset Universitas Indonesia-Kemendagri Soroti Potensi Desa Bandung di Pandeglang
FOTO: Istimewa

NUSA AKSARA – Universitas Indonesia bersama Kementerian Dalam Negeri melakukan riset lapangan terkait pengembangan konsep Smart Village di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kegiatan ini berlangsung pada 6 hingga 8 Mei 2026.

Riset tersebut merupakan bagian dari program “Optimalisasi Pemerintahan Desa Berdampak Tahun Anggaran 2026”. Fokus utamanya adalah penguatan tata kelola desa berbasis inovasi, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.

Tim dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI melakukan kunjungan awal ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Pandeglang. Selanjutnya, tim melanjutkan observasi dan wawancara di Desa Bandung.

Potensi Lokal dan Tata Kelola Digital

Hasil pengamatan menunjukkan Desa Bandung memiliki sejumlah potensi unggulan. Di antaranya budidaya ikan mas “Si Nyonya”, kerajinan anyaman daun pandan, kawasan persawahan, serta komoditas Kopi Puhu.

Selain potensi ekonomi, desa ini juga dinilai telah mengembangkan konsep desa digital. Pemanfaatan teknologi disebut berjalan seiring dengan tata kelola pemerintahan yang adaptif.

Ketua tim riset, Hendra Kaprisma, menilai Desa Bandung memiliki kesiapan yang kuat untuk mengembangkan konsep desa cerdas berbasis potensi lokal. Ia menekankan bahwa pendekatan Smart Village tidak hanya berfokus pada digitalisasi.

“Desa Bandung memiliki kekuatan yang sangat lengkap, mulai dari sumber daya alam, komoditas unggulan, budaya masyarakat, hingga kepemimpinan desa yang visioner dan adaptif terhadap teknologi. Konsep Smart Village tidak hanya berbicara tentang digitalisasi, tetapi juga bagaimana teknologi mampu memperkuat identitas, ekonomi lokal, dan kualitas tata kelola desa secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, praktik yang diterapkan di desa tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas. Ia melihat adanya model yang dapat direplikasi di wilayah lain.

“Kami melihat adanya praktik baik (best practice) yang sangat kuat di Desa Bandung. Dengan penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, desa ini berpotensi menjadi model pengembangan desa berdampak yang dapat menjadi rujukan nasional,” tambahnya.

Kolaborasi dan Penguatan Desa

Kepala Desa Bandung, Wahyu Kusnadiharja, menyatakan dukungan terhadap kolaborasi yang dibangun bersama UI dan Kemendagri. Ia menilai pendekatan berbasis potensi lokal menjadi kunci dalam pengembangan desa.

“Kami percaya bahwa kemajuan desa harus dibangun dari kekuatan masyarakat dan potensi lokal yang dimiliki desa itu sendiri, seperti konsep penta helix. Kehadiran Universitas Indonesia dan Kemendagri memberikan semangat baru bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi desa, memperkuat pelayanan publik berbasis digital, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan potensi unggulan desa,” ungkapnya.

Ia juga menyatakan kesiapan desa untuk menjadi ruang pembelajaran bagi pengembangan desa lain. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki Desa Bandung dapat dibagikan secara terbuka.

“Kami terbuka untuk berbagi pengalaman dan menjadi bagian dari proses pengembangan desa-desa lain. Harapannya, Desa Bandung tidak hanya maju untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan desa di tingkat yang lebih luas,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim juga mendiskusikan kemungkinan menjadikan Desa Bandung sebagai desa binaan UI. Inisiatif ini diharapkan memperkuat kolaborasi jangka panjang antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Melalui riset ini, UI dan Kemendagri menargetkan lahirnya rekomendasi strategis untuk pengembangan Smart Village di tingkat nasional. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas desa dalam mewujudkan tata kelola yang inovatif, partisipatif, dan berdampak langsung bagi masyarakat.

(CHY/CTA)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index