NUSAAKSARA.COM — Rupiah menutup perdagangan Senin (21/9) di level Rp17.847 per dolar AS, melemah 0,50% atau 89 poin dari posisi sebelumnya. Pelemahan mata uang Garuda dipicu pasar yang mencermati arah kebijakan Bank Indonesia dan ketegangan konflik Iran-AS. Posisi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang paling tertekan di kawasan Asia.
Berdasarkan data Traze Andalan Futures pada pukul 16.00 WIB, rupiah anjlok ke level Rp17.847 per dolar AS. Pelemahan 0,50% ini menjadikan mata uang Garuda yang paling tertekan di Asia, jauh melampaui yen Jepang yang melemah 0,23% dan peso Filipina yang turun 0,06%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,98%, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,23%, ringgit Malaysia 0,13%, baht Thailand 0,06%, rupee India 0,05%, dan dolar Singapura 0,03%.
Rupiah Tertekan Paling Dalam di Asia
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini kontras dengan mayoritas mata uang regional. Yuan China dan dolar Hong Kong terhadap dolar AS tercatat stagnan, sementara rupiah justru mencatat koreksi terdalam.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai rupiah sebenarnya berpeluang bergerak menguat di tengah pasar yang mencermati arah kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan konflik Iran-AS.
"Pertemuan Sidang Umum PBB menjadi perhatian karena membuka peluang diplomasi, meski ketegangan di Timur Tengah masih tinggi," ujar Ibrahim.
Dua Faktor yang Menahan Laju Rupiah
Selain konflik geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia. Ketidakpastian suku bunga acuan membuat investor menahan posisi di aset berdenominasi rupiah.
Dari sisi fiskal, RAPBN 2027 mencatat defisit 2,40% terhadap PDB, masih di bawah batas 3%. Namun, kualitas belanja, beban bunga utang, serta kemampuan fiskal menghadapi guncangan ekonomi tetap menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.
Rupiah Dibuka Melemah 0,22% Pagi Ini
Pada perdagangan Selasa (22/9/2026), rupiah dibuka melemah 0,22% atau merosot 40 poin ke level Rp17.887 per dolar AS berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pukul 09.05 WIB.
Rupiah kembali menjadi mata uang terkoreksi paling dalam pada pagi ini, disusul yen Jepang melemah 0,10%, yuan China melemah 0,03%, baht Thailand melemah 0,02%, dan dolar Singapura melemah 0,02%.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp17.840–Rp17.900 per dolar AS. Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan Sidang Umum PBB dan sinyal kebijakan Bank Indonesia.
Bagi investor, pelemahan rupiah berpotensi menekan imbal hasil aset berdenominasi dolar sekaligus meningkatkan biaya impor. Emiten dengan utang valas dan ketergantungan bahan baku impor menjadi yang paling rentan terhadap fluktuasi ini.