Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.758, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.758, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 5 poin atau 0,03% ke level Rp17.758 per dolar AS pada perdagangan awal pekan. Pelemahan terjadi di tengah tekanan eksternal dari eskalasi geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian politik Amerika Serikat. Analis memperkirakan rupiah berisiko menembus level psikologis Rp18.000 jika tekanan global berlanjut.

Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka lesu ke Rp17.758 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru melemah tipis 0,01% ke level 100,21. Mayoritas mata uang Asia bergerak berlawanan dengan rupiah, dengan yen Jepang menguat 0,10% dan won Korea naik 0,22% terhadap greenback.

Ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing terapresiasi 0,14% dan 0,15%. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih spesifik dibanding pergerakan regional.

Ancaman Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berisiko menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kombinasi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak mentah, dan intervensi politik menjelang pemilu sela AS menjadi pemicu utamanya.

"Gonjang-ganjing geopolitik, perpolitikan di AS, hingga kebijakan Bank Sentral AS yang diintervensi Donald Trump berpotensi membawa rupiah kembali ke atas Rp18.000," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Minggu (20/9/2026).

Harga Minyak dan Inflasi Impor Jadi Beban Ganda

Di pasar komoditas, lonjakan harga minyak mentah dunia diproyeksikan bergerak di rentang US$90,30 hingga melampaui US$102,50 per barel. Kisaran ini menjadi ancaman nyata bagi inflasi dan beban impor energi nasional.

Pemicu lonjakan harga minyak datang dari eskalasi ketegangan di Selat Hormuz hingga Selat Al-Mandab. Serangan terhadap wilayah Arab Saudi dan kilang minyak Rusia turut memperketat pasokan global.

Politik AS dan The Fed Perkuat Aliran Modal ke Safe Haven

Indeks dolar AS (DXY) diperkirakan bergerak kuat di kisaran 99,40 hingga 101,20. Keperkasaan mata uang Paman Sam ditopang arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish.

Ibrahim menjelaskan ketidakpastian politik di internal AS memicu kekhawatiran pasar modal. Persaingan ketat Partai Republik dan Demokrat menjelang pemilu sela November mendorong pemindahan cadangan aset ke Eropa, khususnya London, untuk menghindari risiko politik domestik AS.

Situasi memanas setelah Trump mengintervensi usulan kenaikan suku bunga The Fed dan menuntut pemangkasan agresif lebih dari 100 bps. Ketegangan antara otoritas moneter dan politisi membuat pasar gelisah dan mengalihkan dana ke aset berisiko rendah (safe haven).

Pasar Cermati Langkah Intervensi Bank Indonesia

Dengan bayang-bayang pelemahan rupiah ke atas Rp18.000 per dolar AS, pasar domestik diperkirakan mencermati langkah intervensi Bank Indonesia. Otoritas moneter berpotensi masuk ke pasar spot maupun DNDF guna menahan laju volatilitas mata uang Garuda.

Pelaku usaha yang memiliki kewajiban impor energi perlu mencermati perkembangan ini. Pelemahan rupiah yang berlanjut akan menambah beban biaya bahan baku dan berpotensi menekan margin perusahaan di sektor manufaktur serta transportasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index