FEKDI x IFSE 2026 Ditutup, Transaksi QRIS Semester I Tembus Rp1,12 Kuadriliun

FEKDI x IFSE 2026 Ditutup, Transaksi QRIS Semester I Tembus Rp1,12 Kuadriliun
Hari penutupan FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Kartika Sabturina

NUSAAKSARA.COM — Nilai transaksi QRIS sepanjang Semester I-2026 mencapai sekitar Rp1,12 kuadriliun atau melesat 93,92 persen secara tahunan. Pemerintah menutup gelaran Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) bersama Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 dengan menekankan bahwa digitalisasi kini harus mendorong produktivitas dan daya saing, bukan sekadar alat pembayaran.

Rangkaian FEKDI x IFSE 2026 resmi berakhir pada Sabtu (26/9/2026). Ajang tahunan yang mempertemukan pemerintah, otoritas keuangan, pelaku industri, hingga akademisi itu diarahkan memperkuat kolaborasi pemanfaatan teknologi digital untuk mendongkrak produktivitas, perdagangan, investasi, dan daya saing ekonomi nasional.

Pengguna QRIS Tembus 65,77 Juta, 96,68 Persen Merchant UMKM

Penetrasi pembayaran digital di Indonesia meningkat pesat. Hingga Juni 2026, pengguna QRIS mencapai 65,77 juta orang dengan 44,86 juta merchant, dan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.

Sepanjang Semester I-2026, volume transaksi QRIS menyentuh 12,55 miliar transaksi dengan nilai nominal sekitar Rp1,12 kuadriliun, melesat 93,92 persen secara tahunan (year-on-year).

QRIS Antarnegara Siap Meluas ke Hong Kong dan Timor-Leste

Ekspansi global terus dipacu lewat QRIS Antarnegara. Layanan ini telah terhubung di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Selanjutnya, layanan dijadwalkan meluas ke Hong Kong dan Timor-Leste.

Perluasan itu ditujukan mempermudah akses pasar global bagi UMKM serta menopang sektor pariwisata hingga investasi.

Rizal Edwin: Digitalisasi Harus Lewat dari Sekadar Transaksi

Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Edwin, menegaskan fokus digitalisasi saat ini harus bergerak lebih jauh melampaui sekadar sarana pembayaran.

"Kita tidak lagi hanya berbicara tentang digitalisasi transaksi, tetapi juga tentang bagaimana konektivitas digital dapat menjadi penggerak produktivitas, perdagangan, investasi, inklusi dan daya saing ekonomi Indonesia," ujar Rizal Edwin dalam keterangannya, dikutip Minggu (27/9/2026).

Rizal menjelaskan, penguatan ekonomi dan keuangan digital selaras dengan pilar prioritas RPJMN 2025–2029. Pemerintah terus mendorong integrasi ekosistem digital dengan sektor riil, sembari memperkuat tata kelola data, keamanan siber, dan perlindungan konsumen.

"Karena itu, saya berharap FEKDI dan IFSE 2026 tidak berhenti sebagai forum untuk bertukar gagasan. Apa yang kita bahas di sini harus dilanjutkan dalam bentuk kolaborasi, inovasi yang diterapkan dan konektivitas yang benar-benar menciptakan nilai tambah bagi perekonomian," kata Rizal.

Penutupan Diwarnai Penghargaan Inovasi Digital

Sesi penutupan dihadiri jajaran Deputi Gubernur Bank Indonesia, Anggota Dewan Komisioner OJK, pejabat tinggi kementerian/lembaga, pelaku industri fintech dan perbankan, serta mitra internasional.

Acara turut diwarnai penganugerahan bagi pemenang PIDI DIGDAYA x Hackathon 2026, QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026, dan Merchant QRIS Star.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index